Episode Bulan Juli
Oksigen terhirup melimpah. Masuk cepat ke dalam paru-paru. Darah
mengikat oksigen. Serasa tak mau lepas. Sangat erat. Seperti rindu yang pekat.
Meski tiap detik ia bertemu. Tak mau kehilangan waktu. Mereka bercumbu dan
mengalir. Hingga berupa-rupa kalori terbakar menjadi energi. Menggerakkan
tangan. Memukul.
Deemmm..
Buuuk... Dash...!
Tangan itu sakit. Tapi hati lebih
sakit. Awan ikut iba melihatnya. Buliran air menetes.
Tes..Tes..Tes..
Angin membawa pesan kerinduan yang berduri.
-
Pesan itu. Di Surabaya, 11 September
2004. Aku mendapatkannya dari sorot mata bidadari di balik jendela. Ia tengah
sibuk menyapu. Membersihkan ruangan penuh debu. Waktu itu aku juga menyapu.
Hanya saja di jarak kejauhan. Jarak yang hanya bisa dijangkau oleh mata. Ku
curi pandang untuk menikmatinya lebih dalam. Senyum yang tentram. Aura yang
menyejukkan. Aku terbawa dalam lamunan. Namun...
“Suuuut... Ndak boleh Gir...” Teman
akrabku menegur.
“Hmmm.. Bentar aja kok.. Ndak boleh?”
“Nanti kalau ketahuan pengurus
asrama.. Bisa gawat..”
“Hmmm..”
Aku kecewa. Namun seberkas ingatan
itu tak mau pergi. Maka aku menikmatinya melalui ingatan. Wajah itu. Senyum
itu. Hingga tertidurpun aku selalu memimpikannya. Umur remaja ini telah
memasuki kawasan ternama. Bernama cinta.
Hari-hari berikutnya aku rajin sekali
menyapu halaman. Tak ingin membuang kesempatan. Meski bukan jadwalku. Tapi aku
meminta untuk diberikan jatah. Karena aku ingin mengumpulkan waktu agar bisa
menikmati senyumnya lebih lama.
Bangunan bertingkat empat. Bercat
hijau muda dan tua. Berdiri menara di depannya. Itulah asrama sekolahku. Asrama
Biruni. Aku tidur di tempat itu. Belajar di asrama itu. Dan kini aku menyapu
juga untuk asrama itu. Meski sebenarnya ada tujuan lain yang tersembunyi.
Tentang hati yang kasmaran.
Di sebelah bangunan yang aku tinggali.
Juga berdiri bangunan yang besar namun hanya bertingkat dua. Lebih tertutup. Lebih
terjaga. Hanya perempuan yang tinggal di situ. Dan di tempat itu pula hidup
seorang gadis yang aku kagumi sejak pertama kali aku menyapu.
-
Lampu nampak terang. Aku terduduk di
kamar. Ku buka lembaran putih di depanku. Kertas. Ku angkat penaku. Menulis. Ku
tulis sebuah puisi cinta. Ingin sekali ku berikan padanya. Tapi tak berani.
Undang-undang asrama melarangku berhubungan dengan gadis. Apalagi gadis dalam
asrama. Hmmm. Aku bergetar.
Berduka pada cinta yang aku miliki. Cinta pertama seorang pria remaja berumur
tiga belas tahun.
Lima
tahun aku memendamnya. Ku simpan dalam-dalam. Dalam hati yang penuh kesabaran.
Namun juga hati yang tak punya keberanian.
Aku tak pernah merasakan cinta yang
begitu menggebu seperti ini. Meski aku coba melupakannya namun ku rasakan ia
selalu menjalar lembut di setiap bait hidupku. Menyapaku di waktu pagi. Dan
mencipta angin rindu di waktu malam. Ku tunggu waktu yang berbicara.
1 Juli 2010. Kini liburan sekolah
telah tiba. Aku sudah kelas tiga SMA. Rasanya aku ingin pulang ke rumahku di
luar jawa. Pulau Buru. Keluargaku tinggal di sana. Namun kata ibu aku pulang
seminggu lagi saja. Di sana sedang banyak konflik antar suku. Maka ku turuti
kata ibuku.
Di asrama selalu sepi jika libur tiba.
Sangat sepi sekali. Hanya suara motor dan mobil yang penuhi telingaku. Aku
menjaga asrama dengan tiga orang temanku. Mereka juga belum pulang. Saat itu
aku membeli handphone dari uang hasil tabunganku. Sebelum
teman-temanku pulang aku banyak tanya nomor ponsel mereka. Agar aku bisa
bertanya kabar dengan mereka saat di rumah.
Entah mengapa aku ingin sekali mencari
nomor ponsel dari seorang yang aku rindukan dari dulu. Ku tanyakan ke
sahabatku. Satu persatu. Hingga satu,dua, tiga, sepuluh kali aku bertanya dari
orang yang berbeda-beda. Aku mendapatkanya. Jasmin. Nama yang aku kagumi.
Aku kirim pesan. Hingga sehari tak ada
jawaban. Rasanya aku tak mau berlama-lama. Ku telepon ia.
Tuuuuut..Tuuuuuuut.....Tuuuuuuuut..
Diangkat.
“Assalamualaikum...” Ia menyapa merdu.
“Waalaikumsalam... Benar ini Jasmin?”
“Iya benar sekali mas.. Maaf ini
siapa?”
DENG...
Aku
bergetar. Malu. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Meski dari jarak yang
jauh.
“Hmmm.. Kamu tahu nggak?” Aku malah
balik bertanya. Grogi sekali rasanya.
“Ya ndak tahu lah mas.. Gimana sih..
Aku matikan ya....” Dia kesal.
DEG...
Aku
tak mau menghamburkan kesempatan.
“Jangan Jasmin.. Aku sudah menunggu
waktu-waktu ini.. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu...”
“Hmmmm.. Iya kamu siapa dulu?”
“Aku Giri..”
“Oh Giri...” Ia nampak sudah
mengenalku. Jelas. Karena aku adalah orang yang sering digosipin dengan dia di
asrama.
“Hmm.. Pasti kamu kenal aku... Aku
sudah memendamnya enam tahun lalu...”
“Memendam apa Gir?”
Pelan-pelan aku berkata, “Aku cinta
kamu..”
Aku
mengungkapkannya begitu saja. Hatiku berdoa. Aku takut jika ia menjawab dengan
jawaban yang tak aku inginkan.
Penuh getaran ia menanggapi
kata-kataku, dengan melodi hati yang tak stagnan, “Hmm.. Kenapa baru sekarang
kamu mengatakannya? Padahal aku juga mencintaimu dari dulu.. Aku sakiit sekali
menunggumu..”
Kata-katanya itu membuatku merasa
sangat bersalah.
“Maafkanlah aku Jasmin.. Aku baru
berani mengatakannya sekarang..”
“Hmmm Ya sudah..” Ia sepertinya
kecewa.
“Kamu mau kan menjalaninya denganku?”
“Hmmmm..” Begitu jawabnya singkat.
Antara mau dan tidak.
Namun aku lega. Lega sekali. Mulai
detik itu aku seringkali berhubungan dengannya melalui pesan singkat dari
ponsel. Berkirim pantun. Berbalas puisi.
Hingga
aku merasakan bunga-bunga cinta menebar keharuman. Berwarna-warni seperti musim
semi di eropa. Menjelma indah di dalam hati.
Satu bulan aku menjalin cinta
dengannya. Satu bulan sudah aku bahagia bersamanya. Meski ia nampak ada sesuatu
yang disembunyikan. Aku tak peduli. Yang jelas dia juga berkata cinta kepadaku.
Satu bulan aku bahagia.
Namun...
Sore ini... Di Pulau Buru...
Senja dilukisi awan gemawan yang
indah. Mega mencair bak tinta merah yang tumpah. Gerombolan burung pulang ke
rumahnya masing-masing. Bersiap menyambut malam untuk beristirahat. Tapi
berbeda denganku. Mega itu justeru menjelma sendu di hatiku. Di pinggir sawah
aku berdiri. Menghempas sepi yang menyekap. Ku telepon ia sekali lagi untuk
memastikan kata-katanya.
“Apa benar itu?”
“Ya benar.. Maafkan aku kita harus
putus..” Ia mantap sekali menjawab.
“Apa alasanmu?”
“Tak ada alasan.. Aku hanya tak bisa
terus bersamamu..”
“Benar?? Hanya satu bulan saja kita
bersama??”
“Hmm.. Iya..” Ia nampak hambar.
“Hahahaha... Sebenarnya aku tak pernah
serius dengamu.. Ini ku lakukan hanya untuk memenangkan tantangan dari
temanku.. Aku taruhan dengan temanku untuk menaklukanmu.. Sungguh aku tak pernah
serius!!” Aku terbahak-bahak menjawab. Jawaban karena gengsi. Jawaban yang
mengenaskan. Sangat menyakitkan.
Ia berderai tangis. Cepat-cepat ia
memutuskan telepon. Dan aku hanya terpaku. Dalam senja yang menghilang.
-
Liburan asrama akan habis. Tiga
hari lagi. Namun aku sudah kembali di Surabaya. Perasaanku belum sembuh. Juga
aku merasa bersalah. Usai aku membuat Jasmin menangis, aku tak pernah lagi bisa
menghubunginya. Berkali-kali aku menelepon namun tak ada jawaban. Dan kini aku
ingin mencobanya. Lagi dan lagi. Hingga satu suara bergetar di telinga.
“Assalamualaikum.. Maaf nak.. Jasmin
sedang sakit keras mulai kemarin.. Maaf ya.. Biarkan dia istirahat..” Suara
seorang ibu yang membuatku haru.
“Iya bu... Semoga Jasmin lekas
sembuh..”
“Amiiin..”
Aku tambah bersalah. Ini karena
keegoisanku. Dia sakit. Hmmm. Aku akan segera
menemuinya.
Malam ini ku kumpulkan buah-buahan,
susu, dan roti. Ku masukkan
dalam satu kardus. Rapi sekali aku mengikatnya. Aku siap berangkat ke rumah
Jasmin. Esok pagi.
Matahari belum sampai menengok, aku
sudah berangkat. Aku naiki angkutan yang biasa melewati pondokku. Aku berangkat
dengan gigihnya.
Aku terus melihati jalanan kota
Surabaya. Tiba-tiba mataku terbelalak.
“Hah??
Aku tak tahu alamatnya!!” Ku pukul kepalaku.
Edan. Sungguh edan.
Aku ingin ke rumah Jasmin tapi tak tahu alamatnya. Yang ku ingat hanya nama
jalannya. Jalan A. Yani. Aku tak boleh berhenti. Aku tak akan menyerah. Sudah
di jalan tak usah kembali. Aku tetap melanjutkan perjalanan. Demi cintaku. Aku
nekat.
Turun
dari angkutan. Aku naik
angkutan lagi. Hingga tiga kali. Setelah itu aku baru sampai di jalan A. Yani.
Entah nomor berapa jalan itu. Yang penting aku turun.
Aku
berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Perjalananku tak terarah.
Menghabiskan jam-jam. Entah kemana aku akan berjalan. Bingung. Namun sebuah
sepeda motor mendekatiku dari arah belakang.
“Giri...
Gir.. Giri...” Suara itu aku mengenalnya.
Aku
menengok.
“Oh
kamu Jal... Kamu lagi sibuk ndak?”
Ternyata
Rijal. Teman asramaku. Ada sebuah kesempatan di balik senyum temanku itu.
“Oh..
Ndak sih..”
“Kamu
mau bantu aku ndak?” Wajahku memelas.
“Bantu
apa?”
“Antar
aku ke rumah Jasmin yuk..”
“Oh
ya udah.. Tapi jangan lama-lama ya... Soalnya dua jam lagi motornya mau dipakai
bapakku..”
“Oke..
Ayo berangkat..”
Aku
lupa kalau aku tak tahu dimana alamat rumah Jasmin. Meski berjalan atau naik
motor sama saja. Aku dan Rijal memutari jalan A. Yani sebanyak empat kali.
Namun tak ada hasil sama sekali.
“Sebenarnya
kamu tahu rumahnya Jasmin apa ndak?” Rijal geram.
“Hmmm..
Kamu tahu ndak?”
“Malah
tanya.. Aku ndak tahu lah...” Rijal tambah sebal.
“Hmmm
yaudah bentar ya..”
Ku
telepon nomor teman-temanku. Satu persatu. Aku tanyai. Hingga tak ada yang tahu
sama sekali. Aku hanya kenal satu orang yang Rijal juga kenal. Dina. Ia juga
belajar di asrama sebelah asramaku. Kebetulan juga rumahnya di sekitar jalan A.
Yani. Mungkin saja ia kenal dekat dengan Jasmin. Ku ketahui alamat rumahnya
dari Rijal.
“Yaudah
ayo Gir.. Ke sana..”
Namun
nahas. Sampai sana, Dina tak ada di rumah. Aku hampir saja menyerah. Namun ibu
Dina syukur sekali mau membantu. Ia menelepon putrinya. Menanyakan alamat rumah
Jasmin.
“Ini
nak..” Ibu Dina memberikan sobekan kertas kecil berisi alamat Jasmin yang tadi
ia tulis.
Alamat
sudah ku dapat. Cepat-cepat aku pergi ke rumah Jasmin. Lima belas menit. Aku
sampai di depan rumah sederhana milik Jasmin. Perjuanganku tak sia-sia.
“Gir..
Aku pulang dulu ya..” Rijal terburu-buru.
“Iyaa..
Jal.. Terimakasih sekali... Hati-hati ya..”
Akhirnya
ku ketuk pintu rumah di depanku. Tiga kali aku mengetuk seorang ibu keluar
menyapa. Menyuruhku untuk masuk. Kardus yang ku bawa segera ku berikan. Aku
menunggu Jasmin di ruang tamu. Semenit setelah itu ia keluar.
Sungguh
aura yang dimiliki Jasmin seperti hilang. Ia pucat sekali. Ia hanya terdiam
menemuiku.
“Kenapa
kamu sampai sakit seperti ini? Apa karena kata-kataku?”
“Hmmm..”
Dia hanya bergumam.
“Aku
minta maaf ya.. Apa ada masalah lain Jas? Tolong katakan sebenarnya ada apa?
Dia
hanya terdiam. Masih pucat. Sama sekali tak mau mengeluarkan sesuatu dari
mulutnya. Aku pasrah.
“Yasudah..
Mudah-mudahan cepat sembuh ya.. Hanya ini yang bisa aku lakukan... Aku pamit
pulang ya...” Aku tak mau berlama-lama. Menunggu ia membisu.
Ia
masih terdiam. Menyembunyikan rahasia di dalam hatinya. Biarlah waktu yang
menjawab. Aku pergi. Menghempaskan penat hatiku di udara.
Tiga
hari setelah itu teman-temanku sudah kembali di asrama. Dan mulai tiga hari
lalu aku sering memandang langit dari tingkat tertinggi di asrama. Ku pandang
luas hamparan biru itu. Ku nikmati kota Surabaya. Namun tetap saja hati ini
masih gerimis.
Bahkan
kini gerimis di hatiku berubah deras. Sangat deras. Hingga banjir. Aku tak kuat
menahannya. Mendengarkan kabar yang panas. Sangat panas. Bagai petir yang
membakar nadi-nadi.
Ku
habisi tembok di depanku. Ku pukuli. Hingga aku tak merasakan sakit pada
tanganku. Hanya hambar. Kecuali hati ini. Masih sakit sekali. Gemuruh guntur
terus menggebu dalam dada. Aku gila.
Cinta
yang aku tunggu enam tahun untuk ku ungkapkan kini direbut orang. Sahabatku
sendiri di asrama telah menjalin cinta dengannya sejak dua bulan lalu. Aku
terlambat.
Serdadu Cinta
Serdaduku datang membawakan gergaji untukku.
Dia nampak lelah memuntahkan sebongkah raut wajah yang lelah. Aku tak tahu
mengapa dia gagal. Dan gergaji itu untuk apa. Kemudian dengan tangan yang
lunglai dia berikan gergaji itu untukku. Dia berucap, “Maaf bos, tadi aku habis
di lempar gergaji oleh nenek lampir, dia kira aku maling. Aku lari
terbirit-birit tadi..”
Puisi Perjuangan Santri di Bumi Airlangga
Titik demi titik perjalanan kita akan membentuk sebuah garis kehidupan
Tiap ulasnya mempunyai warna warni perjuangan
Kawan, kita dihempas dari tempat yang berbeda berkumpul dalam ruang yang sama
Keluarga, sahabat, guru-guru kita tinggal demi sebuah cita-cita
Kawan kita bergerak maju bukan hanya untuk kita tapi demi bangsa dan agama
Kita ditopang dari uluran tangan rakyat
Butir-butir nasi yang kita makan adalah sebuah pemberian dari rakyat
Janji-janji yang kita tulis dalam selembar kertas putih akan menuntut kita untuk patuh dan terikat
Tapi bukan itu kawan, seharusnya kita sadar..
Perjuangan kita bukanlah sebuah harga mati agar kita mengembalikan materi kepada rakyat
Dan perjanjian itu bukanlah sebuah tuntutan atau beban berat
Mereka hanya butuh keikhlasan kita untuk mengabdikan apa yang kita punya
Kawan, perjuangan kita masih diambang pembuktian
Inilah saatnya kita memberi bukti-bukti bahwa kita adalah santri pilihan
Di bumi Airlangga kita akan dipertemukan dengan jawara-jawara yang hebat
Selamat mengepalkan tangan untuk segala tantangan dan cobaan
6 agustus 2012
Semangat kami untuk adik-adik penerima beasiswa :)
Kelabu
Kelabu
Tik-Tak…
Tik-Tak… Tik-Tak…
Begitulah bunyi jarum jam yang terus
bergulir kala jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Ada seseorang yang
tengah terjaga dari mimpinya. Ia melihat jam di kamarnya lalu mengusap
wajahnya. Ia tergopoh-gopoh dari tidurnya.
“Sialan… Mimpi buruk lagi… Ah… Sulit
banget tidur nyenyak…”
Karena tak kuat menahan kantuk, ia
berusaha untuk tidur. Tapi perasaan dan pikirannya yang berkecamuk membuatnya
sulit sekali untuk tidur lagi. Ia memutuskan untuk turun dari lantai kamarnya
menuju kamar mandi dan dapur. Membasuh wajahnya dengan air dan ia lanjut dengan
membikin kopi hangat. Memang kontras sekali apa yang ia lakukan dengan apa yang
ia inginkan. Kalau bicara soal kontras semacam itu, sebenarnya memang hidupnya
penuh kontradiksi.
Seperti halnya, ketika ia ingin
sekali kuliah di bidang kesenian karena dia punya bakat di situ, eh malah ia terdampar di teknik elektro.
Kasihan sekali. Namun itu bukan hal yang utama sebenarnya. Ada semacam luka
darah bernanah di hatinya yang ia pendam dan tanggung sendiri.
“Belum tidur nak?” Suara lembut dari
belakang mengejutkannya.
“Eh
Bu… Udah tadi bentar…. Ibu kok udah bangun?” Jawabnya.
“Hmmmm… Ibu ketiduran tadi… Nunggu Ayahmu
katanya tadi ada urusan di rumah temennya tapi sampai sekarang belum
pulang-pulang…” Sang Ibu menatapnya dengan mata sayu. Kelihatan raut wajah yang
begitu lelah.
“Sabar bu… Ibu tidur saja dulu… Ibu
lelah seharian kerja...” Pintanya.
“Iya nak… Kamu juga tidur ya…”
“He’em bu...”
Sedetik terakhir ia menatap mata
Ibunya. Ia dapat mengerti ada semacam aliran listrik yang sama arusnya meski
beda voltase yang saling menggetarkan. Ia hanya bisa melanjutkan langkahnya
dengan membawa segelas susu menuju kamar.
KESIANGAN!!!
Begitulah pekerjaannya akhir-akhir
ini, semua karena sulitnya ia tidur malam. Padahal hari ini dia ada jadwal
konser menyanyi di acara pernikahan teman SMP-nya.
“Arrrggghhhhh... Udah Jam 9…” Ia
menatap kaget jam dindingnya.
Secepat kilat ia menuju kamar mandi.
Tak berselang sampai lima menit, ia telah selesai. Cepat-cepat juga ia memakai
baju dan menuju dapur untuk membuat roti susu. Makanan cepat saji yang jadi
handalannya.
“Eh
adek-adek udah pada bangun…” Ia mengusap kepala adik-adiknya yang sedang asyik
nonton televisi.
“Lah kamunya aja yang kesiangan…..”
Kakaknya yang hitam manis itu menimpali.
“Hahahahahaha… Maklum kak, artis…
Bangunnya siang…” Ia menjawab.
“Uuuuuuwww…..” Kakak dan dua adiknya
serempak.
“Hahahahaha… Sudah… Sudah... Aku
berangkat dulu ya…”
Di depan pintu Ibunya sedang berdiri
melihat tingkah anak-anaknya. Tepat saat itulah ia segera mencium tangan ibunya
dan langsung bergegas dengan sepeda motor ninja-nya. Saat sampai di gerbang
rumah. Ia dapati ayahnya baru saja pulang.
“Sibuk sekali yah…” Sindirnya.
“Iya nak… Tadi malam banyak urusan
bisnis di rumah teman...” Jawab ayahnya dengan muka sumringah.
“Ohh…” Jawabnya dingin di tengah-tengah
suara motor yang sudah siap untuk melaju.
“Mau kemana nak?” Ayahnya sedikit
bertanya.
“Biasa yah.. Artis…. Berangkat dulu
ya….” Ia langsung melajukan motornya dengan cepat.
Ayahnya terakhir kali menimpalinya
dengan senyum sumringah yang tak terlihat olehnya.
Sampai di tempat ia langsung
disambut teman-temannya. Suara meriah penuh lagu-lagu dari soundsystem terdengar menghiasi acara pernikahan. Terlihat dua
orang MC tengah berada di depan siap untuk menyambutnya. Rupa-rupanya lagu-lagu
itu didendangkan untuk menunggunya yang sedari tadi sudah dinanti-nanti oleh
teman-teman dan tamu undangan.
“Iya langsung saja kita sambut artis
kita… Bagus San Wardana…”
“Isan!! Isan!!” Teriak bebarapa tamu
undangan. Ya, Isan adalah panggilan akrabnya.
Riuh penonton yang juga teman-temannya sendiri memeriahkan acara
pernikahan. Isan dengan tegap langkahnya menuju panggung dan siap dengan mic yang ia pegang. Seketika itu musik
dibunyikan dan ia menyanyikan sebuah lagu spesial bahasa inggris. Marry me-nya Bruno mars. Tamu undangan
asyik mendengarkan dengan tetap fokus pada hidangan makanan yang tersedia aneka
menunya.
Nampak ada seseorang teman yang melihat Isan dengan tatapan
penuh tanda tanya. Ia lihati Isan terus. Seolah ada sesuatu yang ingin dia
sampaikan pada Isan. Isan pun merasa curiga. Ia ingin sekali menemui temannya
usai lima lagu yang ia nyanyikan selesai. Temannya itupun nampak menunggu di
tempat duduk sebelah barat panggung.
“Rud.. Rudi…” Isan memanggil temannya usai tampil. Rudi menoleh
seketika. Ia masih dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Gimana San?” Rudi menyahut.
“Kamu ada apa dari tadi kok ngelihatin aku?” Isan memulai rasa
penasarannya.
“Gini San……. Soal tadi malam…” Rudi mendekati Isan.
“Ada apa tadi malem Rud?”
“Ayahmu ada di rumah ndak?” Suara Rudi memelan.
“Hmmm… Ndak… Ada apa Rud?” Isan tambah penasarannya.
Akhirnya
Rudi berbisik pada Isan. Ia menceritakan suatu hal yang selama ini juga
dicurigai oleh Isan. Cerita Rudi itu memperkuat dugaan yang sudah menggumpal di
hati Isan. Dengan raut muka yang berkeringat karena panasnya kota Surabaya, Isan
langsung undur diri dari acara dan pulang ke rumah.
----------------
“Ayah mana bu?” Suara Isan masih
tersenggal karena nafasnya yang naik turun usai menaiki ninja-nya dengan
sekencang kilat.
“Di dalam San.. Lagi tidur…” Ibu
menjawab halus.
“Oh……” Isan menaruh helm-nya.
Seperti ada letupan yang hendak keluar dari mulut Isan.
“Kenapa nak? Kok wajahnya merah
hitam gitu…” Ibu mendekati Isan.
“Ibu jangan tahu dulu….. Ini urusan Isan
sama Ayah…”
“Ada apa to nak? Jangan marah-marah
sama Ayah ya…”
“Ya…. Lihat nanti saja bu…” Suara Isan
penuh letupan.
Tak disangka, Ayah Isan keluar dari
pintu rumah. Ia sudah siap dengan baju rapinya. Wajah yang nampak segar usai
mandi dan rambut yang kelimis tertata rapi. Dengan topi cokelat kesukaannya, Ia
hendak memakainya dan melangkahkan kaki. Hampir melewati tempat duduk di teras
rumah Isan menyambutnya. Ia pun seketika berhenti.
“Yah.. Mau kemana?” Sejarak satu
meter dengan ayahnya ia berujar. Tetap dengan raut muka merah hitam dan mulut
yang sudah siap untuk meletup.
“Ini mau ambil baju-baju di tempat
temen Ayah… Persediaan baju di Butik kita udah mulai habis….”
“Hmm… Beneran yah?” Isan nampak tak
percaya.
“Iya bener… Ada apa nak? Wajahnya
kok murung gitu….”
“Jangan sok mengalihkan gitu yah…
Tadi malam Ayah darimana? Jujur….” Isan masih belum padam.
“Lah kan Ayah sudah bilang.. Kalau
tadi malam Ayah ada urusan bisnis sama temennya..”
“Sampai larut malam??” Isan terus
memburu.
“Iya sampai malam…” Ayahnya-pun
ikutan tegang. Ia mencoba mengajak Isan untuk duduk dulu.
“Isan ndak percaya Yah… Isan sudah
lama curiga soal ini… Banyak orang yang sudah beberapa kali ngasih tahu Isan…
Ayah yang jujur… Isan ndak percaya Yah….” Letupannya pun tambah banyak. Isan
sudah tak bisa menahannya.
“Kenapa to nak… Kamu santai dulu..
Jangan su’udzon dulu sama Ayah…” Peluh keringat mulai keluar di kening Ayah Isan.
Ibunya pun ternyata sedari tadi mematung di teras rumah. Ia hanya bisa melihat
dari kejauhan. Seolah sang Ibu ingi n sekali datang mendekati keduanya, tapi ia
masih belum berani.
“Ah… Ayah jangan bertele-tele… Isan
sudah tahu semuanya.. Semua kelakukan gelap Ayah.. Jujur Yah… Isan udah ndak
tahan lagi…. Isan sudah tahu ini sejak kelas 3 SMA yah… Kasihan Ibu Yah… Kalau
Ayah masih seperti itu terus.. Isan mending berhenti dari kuliah.. Isan udah
malas melakukan apa-apa…” Gundukan perasaan marah telah keluar di mulut Isan.
Hal yang selama ini ia pendam demi Ibunya.
Raut muka sang Ayah nampak
mengkerut. Sepertinya ia tak bisa menyangkal apa yang telah Isan katakan. Sang
Ibu mendekati keduanya. Wajahnya nampak sedih sekali. Terlihat buliran air mata
telah membasahi pipinya.
“Nak… Sudahlah… Biarkan Ayahmu
berpikir atas kesalahannya itu…” Sang Ibu mengelus pundak Isan.
“Lho Ibu sudah tahu?” Isan nampak
kasihan dengan Ibunya. Ia berdiri. Melihat raut muka Ibu yang penuh tangis, Ia
mengusap buliran air matanya yang masih tersisa. Tak kuasa Isan juga menitikkan
air mata yang selama ini pula ia simpan demi Ibunya. Ia tak pernah sama sekali
memperlihatkan apa yang menjadi rahasia gila di keluarganya. Ia tak ingin sang
Ibu tahu sedikitpun. Tak ingin sama sekali.
“Ibu sudah tahu… Jauh sebelum kamu
tahu nak…” Tak kuasa buliran air mata keluar lagi dari pelupuk mata sang Ibu. Isan-pun
tak tahan melihatnya. Isan memeluk ibu dengan dekapannya.
Tiba-tiba di kaki sang Ibu, ada yang
memegangi. Sang suami berlutut di hadapan istrinya. Kemudian dengan suara penuh
penyesalan, ia mengakui kesalahannya.
“Bu… Ayah ndak akan mengulangi
lagi.. Ini terakhir kalinya Ayah seperti ini… Maafkan Ayah Bu….”
Sang Ibu dengan belas kasihannya
meminta sang Ayah untuk berdiri. Ia memaafkan kesalahan suaminya itu. Ia juga
mengatakan penuh harap agar apa yang menjadi masa lalunya jangan pernah
diulangi lagi. Isan menyaksikan itu semua. Isan nampak sedikit lega setelah
sang Ayah mau mengakui kesalahannya di depan Ibu.
--------------------
Keluarga Wardana menjalani hari
seperti biasanya. Ibu yang selalu menyiapkan kebutuhan keluarga. Ayah yang
bekerja dengan usaha butik di samping rumahnya, yang memang strategis sekali
karena rumahnya dekat dengan keramaian kota dan berada di pinggir jalan raya.
Kakak Isan juga masih sibuk dengan bisnis celana jeans yang ia rintis usai
lulus kuliah. Adik-adiknya menjalani sekolah SMP seperti biasanya. Dan Isan
seperti biasanya pula menggunakan motor ninja-nya untuk berangkat ke kampus ITS
menjalani kuliah yang meskipun di awal tak begitu ia sukai.
Semuanya berjalan lebih baik dari
sebelumnya. Keluarga itu lebih cair. Memang suasana itu yang Isan
nanti-nantikan karena selama ini keluarganya terasa beku akibat jalan hidup
sang Ayah dengan sisi gelap yang tak ia sukai. Ia bersyukur sekali sang Ayah
mau bertobat dan tak mengulangi kesalahannya itu. Meskipun begitu Isan terus
coba untuk memantau sang Ayah. Ia terus lihati gerak-gerik sang Ayah agar
kejadian yang menyakitkan sang Ibu dan dirinya tak terulangi lagi.
Suasana pagi di depan rumah Isan nampak
riuh lalu lalang motor. Pantas saja, Kota Surabaya merupakan salah satu kota
metropolitan di Indonesia. Berjuta orang dengan berbagai aktifitasnya nampak
begitu asyik untuk dicermati. Ada pegawai, ada pedagang, ada pelajar dan tentu
masih banyak lagi. Adik-adik Isan sudah berangkat sekolah. Kakak Isan juga
sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ayah nampak bersiap-siap. Sedang Ibu Isan
sedang membersihkan piring-piring setelah makan pagi.
Isan yang masih santai-santai saja
karena kuliah masuk siang, tengah duduk di depan ruang televisi. Ada sebuah SMS
masuk tapi bukan dari telepon genggamnya. Ia dapati sebuah handphone di meja sebelahnya. Tak sengaja ia mengambilnya. Terlihat
nama terang di layar HP tersebut.
Dari: Cantika (085731225678)
Sayaaaaaaaaaang… Lagi dimana? Sudah siap
belum? Udah tak tunggu lho..
Begitulah tulisan yang ia baca saat
ia tak sengaja membukanya. Tak berpikir lama Isan sudah bisa menyimpulkan. Luka
yang hendak mongering kini basah lagi. Isan sudah tahu pasti apa yang telah
jadi permainan ‘petak umpet’ ayahnya. Ternyata taubatan sang Ayah adalah
kebohongan besar. Ini semua tak bisa dibiarkan. Isan kemudian berlari dan
membanting HP di depan ayahnya.
“Sialaaaann!!!”
Karsa Angklung
Karsa Angklung
Lagukan aku dalam
lekukan musikmu yang sederhana
Layangkan aku
di sela-sela pukulan penuh nada
Engkau
mendayung lembut menyentuh jiwa
Merayap-rayap
di keheningan
Sulit Haru
Sulit Haru
Oleh: Saendahe
Bergiring-giring hati mematuhi janji
Berontak otak tak mampu menggertak
Aku pilu mengadu sendu
Melihat mayat-mayat hidup di bumi pertiwi
Titik Putih Itu
bacalah.... nantikan kejutan di dalamnya...
Titik Putih Itu
“Kring..Kring…”
Suara sepeda pak yai begitu jelas terdengar
di telinga Neng Cisi. Sekitar beberapa detik lagi pak yai pasti akan
sampai di Ndalem. Neng Cisi bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan
kopi kesukaan pak yai. Kopi kapal kuda. Itu merek kopi ternama di desanya. Ibu
nyai sudah sekian lama sedo. Jadi neng Cisi selain sebagai anak, dia
juga harus berlaku seperti ibunya. Mau mengabdikan diri untuk Abahnya. Abah
Huda. Itu panggilan pak yai. Beliau adalah pengsuh pondok Darul Kalam di Jogja.
Dedikasi Sepi
Dedikasi Sepi
Jika derai kecil ini berdosa
Bagiamana bisa aku mendaki
Jika jutaan luka di tangan dan kaki bagai busa
Terus menerus ada, tak henti sampai mati
Akankah aku tenggelam di jiwa
yang meradang
Aku bukan asa yang bergelora
Hanya secuil tanah yang mengucil
Aku terpencil di sela-sela nafas dunia
Mungkin kau akan temukanku di balik terumbu
Atau di pori-pori angkasa yang membiru
Semesta ini penuh keramaian
Namun ada ruang hampa berbalut kesepian
Aku tak mengutuk jiwaku agar memasukinya
Bahkan hanya sekedar untuk mengintipnya
Tiba-tiba angin yang membawa api
By: Saendahe
Dunia Musuh dan Teman
Semedi, aku dibuat pusing kepala.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
*Puisi ditulis di atas sajadah yang dilipat sebagai alas duduk, diterangi lampu belajar nan sukar. Aku masih menguatkan mata.
Jarak Tanpa Kaki
Jarak Tanpa Kaki
Lelaki tanpa kaki berjalan menapaki malam penuh
kenangan
Seret demi seret tangannya yang kuat membuatnya
terus bertahan
Andai badai menerpanya bukan lunglai yang akan
diterima
Dia tetap menjaga lembaran kertas dari bulan
purnama di hatinya
Pengorbanan kaki menjadi saksi
Pengorbanan kaki menjadi saksi
Demi cita ia relakan jarak
Meski jauh menjadi spasi
Bahkan waktu terus menolak
Detik detik membuatnya lupa
Tak mampu ia membendung cinta
Hingga lautan bergejolak mencipta tsunami di
dada dan kepala
Propaganda dahulu menyusut menjadi titik
Namun titik-titik itu terus menghujan mencipta
grafik
Air tak
mampu menetralkan rasa
Asin itu masih terasa di lidah yang terbuka
Memang benar kini aku tak menginginkanmu
Tapi hidupku terus berintegrasi denganmu
Jarak yang tanpa kaki tak menjadi luka untuk
dilalui
Keikhlasanmu mencipta haru
Buatku merenung karena ingin menghilangkanmu
Maafkan aku kasih aku terbang terlalu jauh
Hatimu pedih merintih terpenuhi keluh peluh
yang menderuh
Aku tak sanggup mengatakannya apalagi
mengulanginya
Entah apa takdir untuk kita
Jarak tanpa kaki dipenuhi doa-doa cinta
By: Saendahe
By: Saendahe
Popular Posts
Diberdayakan oleh Blogger.


