ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • Episode Bulan Juli

    Episode Bulan Juli


    Episode Bulan Juli
    Oksigen terhirup melimpah. Masuk cepat ke dalam paru-paru. Darah mengikat oksigen. Serasa tak mau lepas. Sangat erat. Seperti rindu yang pekat. Meski tiap detik ia bertemu. Tak mau kehilangan waktu. Mereka bercumbu dan mengalir. Hingga berupa-rupa kalori terbakar menjadi energi. Menggerakkan tangan. Memukul.
    Deemmm.. Buuuk... Dash...!
                Tangan itu sakit. Tapi hati lebih sakit. Awan ikut iba melihatnya. Buliran air menetes.
    Tes..Tes..Tes..
    Angin membawa pesan kerinduan yang berduri.
    -
                Pesan itu. Di Surabaya, 11 September 2004. Aku mendapatkannya dari sorot mata bidadari di balik jendela. Ia tengah sibuk menyapu. Membersihkan ruangan penuh debu. Waktu itu aku juga menyapu. Hanya saja di jarak kejauhan. Jarak yang hanya bisa dijangkau oleh mata. Ku curi pandang untuk menikmatinya lebih dalam. Senyum yang tentram. Aura yang menyejukkan. Aku terbawa dalam lamunan. Namun...
                “Suuuut... Ndak boleh Gir...” Teman akrabku menegur.
                “Hmmm.. Bentar aja kok.. Ndak boleh?”
                “Nanti kalau ketahuan pengurus asrama.. Bisa gawat..”
                “Hmmm..”
                Aku kecewa. Namun seberkas ingatan itu tak mau pergi. Maka aku menikmatinya melalui ingatan. Wajah itu. Senyum itu. Hingga tertidurpun aku selalu memimpikannya. Umur remaja ini telah memasuki kawasan ternama. Bernama cinta.
                Hari-hari berikutnya aku rajin sekali menyapu halaman. Tak ingin membuang kesempatan. Meski bukan jadwalku. Tapi aku meminta untuk diberikan jatah. Karena aku ingin mengumpulkan waktu agar bisa menikmati senyumnya lebih lama.
                Bangunan bertingkat empat. Bercat hijau muda dan tua. Berdiri menara di depannya. Itulah asrama sekolahku. Asrama Biruni. Aku tidur di tempat itu. Belajar di asrama itu. Dan kini aku menyapu juga untuk asrama itu. Meski sebenarnya ada tujuan lain yang tersembunyi. Tentang hati yang kasmaran.
                Di sebelah bangunan yang aku tinggali. Juga berdiri bangunan yang besar namun hanya bertingkat dua. Lebih tertutup. Lebih terjaga. Hanya perempuan yang tinggal di situ. Dan di tempat itu pula hidup seorang gadis yang aku kagumi sejak pertama kali aku menyapu.
    -
                Lampu nampak terang. Aku terduduk di kamar. Ku buka lembaran putih di depanku. Kertas. Ku angkat penaku. Menulis. Ku tulis sebuah puisi cinta. Ingin sekali ku berikan padanya. Tapi tak berani. Undang-undang asrama melarangku berhubungan dengan gadis. Apalagi gadis dalam asrama. Hmmm. Aku bergetar. Berduka pada cinta yang aku miliki. Cinta pertama seorang pria remaja berumur tiga belas tahun.
    Lima tahun aku memendamnya. Ku simpan dalam-dalam. Dalam hati yang penuh kesabaran. Namun juga hati yang tak punya keberanian.
                Aku tak pernah merasakan cinta yang begitu menggebu seperti ini. Meski aku coba melupakannya namun ku rasakan ia selalu menjalar lembut di setiap bait hidupku. Menyapaku di waktu pagi. Dan mencipta angin rindu di waktu malam. Ku tunggu waktu yang berbicara.
                1 Juli 2010. Kini liburan sekolah telah tiba. Aku sudah kelas tiga SMA. Rasanya aku ingin pulang ke rumahku di luar jawa. Pulau Buru. Keluargaku tinggal di sana. Namun kata ibu aku pulang seminggu lagi saja. Di sana sedang banyak konflik antar suku. Maka ku turuti kata ibuku.
                Di asrama selalu sepi jika libur tiba. Sangat sepi sekali. Hanya suara motor dan mobil yang penuhi telingaku. Aku menjaga asrama dengan tiga orang temanku. Mereka juga belum pulang. Saat itu aku membeli handphone dari uang hasil tabunganku. Sebelum teman-temanku pulang aku banyak tanya nomor ponsel mereka. Agar aku bisa bertanya kabar dengan mereka saat di rumah.
                Entah mengapa aku ingin sekali mencari nomor ponsel dari seorang yang aku rindukan dari dulu. Ku tanyakan ke sahabatku. Satu persatu. Hingga satu,dua, tiga, sepuluh kali aku bertanya dari orang yang berbeda-beda. Aku mendapatkanya. Jasmin. Nama yang aku kagumi.
                Aku kirim pesan. Hingga sehari tak ada jawaban. Rasanya aku tak mau berlama-lama. Ku telepon ia.
                Tuuuuut..Tuuuuuuut.....Tuuuuuuuut..
                Diangkat.
                “Assalamualaikum...” Ia menyapa merdu.
                “Waalaikumsalam... Benar ini Jasmin?”
                “Iya benar sekali mas.. Maaf ini siapa?”
                DENG...
    Aku bergetar. Malu. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Meski dari jarak yang jauh.
                “Hmmm.. Kamu tahu nggak?” Aku malah balik bertanya. Grogi sekali rasanya.
                “Ya ndak tahu lah mas.. Gimana sih.. Aku matikan ya....” Dia kesal.
                DEG...
    Aku tak mau menghamburkan kesempatan.
                “Jangan Jasmin.. Aku sudah menunggu waktu-waktu ini.. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu...”
                “Hmmmm.. Iya kamu siapa dulu?”
                “Aku Giri..”
                “Oh Giri...” Ia nampak sudah mengenalku. Jelas. Karena aku adalah orang yang sering digosipin dengan dia di asrama.
                “Hmm.. Pasti kamu kenal aku... Aku sudah memendamnya enam tahun lalu...”
                “Memendam apa Gir?”
                Pelan-pelan aku berkata, “Aku cinta kamu..”
    Aku mengungkapkannya begitu saja. Hatiku berdoa. Aku takut jika ia menjawab dengan jawaban yang tak aku inginkan.
                Penuh getaran ia menanggapi kata-kataku, dengan melodi hati yang tak stagnan, “Hmm.. Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Padahal aku juga mencintaimu dari dulu.. Aku sakiit sekali menunggumu..”
                Kata-katanya itu membuatku merasa sangat bersalah.
                “Maafkanlah aku Jasmin.. Aku baru berani mengatakannya sekarang..”
                “Hmmm Ya sudah..” Ia sepertinya kecewa.
                “Kamu mau kan menjalaninya denganku?”
                “Hmmmm..” Begitu jawabnya singkat. Antara mau dan tidak.
                Namun aku lega. Lega sekali. Mulai detik itu aku seringkali berhubungan dengannya melalui pesan singkat dari ponsel. Berkirim pantun. Berbalas puisi.
    Hingga aku merasakan bunga-bunga cinta menebar keharuman. Berwarna-warni seperti musim semi di eropa. Menjelma indah di dalam hati.

                Satu bulan aku menjalin cinta dengannya. Satu bulan sudah aku bahagia bersamanya. Meski ia nampak ada sesuatu yang disembunyikan. Aku tak peduli. Yang jelas dia juga berkata cinta kepadaku. Satu bulan aku bahagia.
                Namun... Sore ini... Di Pulau Buru...
                Senja dilukisi awan gemawan yang indah. Mega mencair bak tinta merah yang tumpah. Gerombolan burung pulang ke rumahnya masing-masing. Bersiap menyambut malam untuk beristirahat. Tapi berbeda denganku. Mega itu justeru menjelma sendu di hatiku. Di pinggir sawah aku berdiri. Menghempas sepi yang menyekap. Ku telepon ia sekali lagi untuk memastikan kata-katanya.
                “Apa benar itu?”
                “Ya benar.. Maafkan aku kita harus putus..” Ia mantap sekali menjawab.
                “Apa alasanmu?”
                “Tak ada alasan.. Aku hanya tak bisa terus bersamamu..”
                “Benar?? Hanya satu bulan saja kita bersama??”
                “Hmm.. Iya..” Ia nampak hambar.
                “Hahahaha... Sebenarnya aku tak pernah serius dengamu.. Ini ku lakukan hanya untuk memenangkan tantangan dari temanku.. Aku taruhan dengan temanku untuk menaklukanmu.. Sungguh aku tak pernah serius!!” Aku terbahak-bahak menjawab. Jawaban karena gengsi. Jawaban yang mengenaskan. Sangat menyakitkan.
                Ia berderai tangis. Cepat-cepat ia memutuskan telepon. Dan aku hanya terpaku. Dalam senja yang menghilang.
    -
                 Liburan asrama akan habis. Tiga hari lagi. Namun aku sudah kembali di Surabaya. Perasaanku belum sembuh. Juga aku merasa bersalah. Usai aku membuat Jasmin menangis, aku tak pernah lagi bisa menghubunginya. Berkali-kali aku menelepon namun tak ada jawaban. Dan kini aku ingin mencobanya. Lagi dan lagi. Hingga satu suara bergetar di telinga.
                “Assalamualaikum.. Maaf nak.. Jasmin sedang sakit keras mulai kemarin.. Maaf ya.. Biarkan dia istirahat..” Suara seorang ibu yang membuatku haru.
                “Iya bu... Semoga Jasmin lekas sembuh..”
                “Amiiin..”
                Aku tambah bersalah. Ini karena keegoisanku. Dia sakit. Hmmm. Aku akan segera menemuinya.
                Malam ini ku kumpulkan buah-buahan, susu,  dan roti. Ku masukkan dalam satu kardus. Rapi sekali aku mengikatnya. Aku siap berangkat ke rumah Jasmin. Esok pagi.
                Matahari belum sampai menengok, aku sudah berangkat. Aku naiki angkutan yang biasa melewati pondokku. Aku berangkat dengan gigihnya.
                Aku terus melihati jalanan kota Surabaya. Tiba-tiba mataku terbelalak.
    “Hah?? Aku tak tahu alamatnya!!” Ku pukul kepalaku.
    Edan. Sungguh edan. Aku ingin ke rumah Jasmin tapi tak tahu alamatnya. Yang ku ingat hanya nama jalannya. Jalan A. Yani. Aku tak boleh berhenti. Aku tak akan menyerah. Sudah di jalan tak usah kembali. Aku tetap melanjutkan perjalanan. Demi cintaku. Aku nekat.
    Turun dari  angkutan. Aku naik angkutan lagi. Hingga tiga kali. Setelah itu aku baru sampai di jalan A. Yani. Entah nomor berapa jalan itu. Yang penting aku turun.
    Aku berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Perjalananku tak terarah. Menghabiskan jam-jam. Entah kemana aku akan berjalan. Bingung. Namun sebuah sepeda motor mendekatiku dari arah belakang.
    “Giri... Gir.. Giri...” Suara itu aku mengenalnya.
    Aku menengok.
    “Oh kamu Jal... Kamu lagi sibuk ndak?”
    Ternyata Rijal. Teman asramaku. Ada sebuah kesempatan di balik senyum temanku itu.
    “Oh.. Ndak sih..”
    “Kamu mau bantu aku ndak?” Wajahku memelas.
    “Bantu apa?”
    “Antar aku ke rumah Jasmin yuk..”
    “Oh ya udah.. Tapi jangan lama-lama ya... Soalnya dua jam lagi motornya mau dipakai bapakku..”
    “Oke.. Ayo berangkat..”
    Aku lupa kalau aku tak tahu dimana alamat rumah Jasmin. Meski berjalan atau naik motor sama saja. Aku dan Rijal memutari jalan A. Yani sebanyak empat kali. Namun tak ada hasil sama sekali.
    “Sebenarnya kamu tahu rumahnya Jasmin apa ndak?” Rijal geram.
    “Hmmm.. Kamu tahu ndak?”
    “Malah tanya.. Aku ndak tahu lah...” Rijal tambah sebal.
    “Hmmm yaudah bentar ya..”
    Ku telepon nomor teman-temanku. Satu persatu. Aku tanyai. Hingga tak ada yang tahu sama sekali. Aku hanya kenal satu orang yang Rijal juga kenal. Dina. Ia juga belajar di asrama sebelah asramaku. Kebetulan juga rumahnya di sekitar jalan A. Yani. Mungkin saja ia kenal dekat dengan Jasmin. Ku ketahui alamat rumahnya dari Rijal.
    “Yaudah ayo Gir.. Ke sana..”
    Namun nahas. Sampai sana, Dina tak ada di rumah. Aku hampir saja menyerah. Namun ibu Dina syukur sekali mau membantu. Ia menelepon putrinya. Menanyakan alamat rumah Jasmin.
    “Ini nak..” Ibu Dina memberikan sobekan kertas kecil berisi alamat Jasmin yang tadi ia tulis.
    Alamat sudah ku dapat. Cepat-cepat aku pergi ke rumah Jasmin. Lima belas menit. Aku sampai di depan rumah sederhana milik Jasmin. Perjuanganku tak sia-sia.
    “Gir.. Aku pulang dulu ya..” Rijal terburu-buru.
    “Iyaa.. Jal.. Terimakasih sekali... Hati-hati ya..”
    Akhirnya ku ketuk pintu rumah di depanku. Tiga kali aku mengetuk seorang ibu keluar menyapa. Menyuruhku untuk masuk. Kardus yang ku bawa segera ku berikan. Aku menunggu Jasmin di ruang tamu. Semenit setelah itu ia keluar.
    Sungguh aura yang dimiliki Jasmin seperti hilang. Ia pucat sekali. Ia hanya terdiam menemuiku.
    “Kenapa kamu sampai sakit seperti ini? Apa karena kata-kataku?”
    “Hmmm..” Dia hanya bergumam.
    “Aku minta maaf ya.. Apa ada masalah lain Jas? Tolong katakan sebenarnya ada apa?
    Dia hanya terdiam. Masih pucat. Sama sekali tak mau mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Aku pasrah.
    “Yasudah.. Mudah-mudahan cepat sembuh ya.. Hanya ini yang bisa aku lakukan... Aku pamit pulang ya...” Aku tak mau berlama-lama. Menunggu ia membisu.
    Ia masih terdiam. Menyembunyikan rahasia di dalam hatinya. Biarlah waktu yang menjawab. Aku pergi. Menghempaskan penat hatiku di udara.
    Tiga hari setelah itu teman-temanku sudah kembali di asrama. Dan mulai tiga hari lalu aku sering memandang langit dari tingkat tertinggi di asrama. Ku pandang luas hamparan biru itu. Ku nikmati kota Surabaya. Namun tetap saja hati ini masih gerimis.
    Bahkan kini gerimis di hatiku berubah deras. Sangat deras. Hingga banjir. Aku tak kuat menahannya. Mendengarkan kabar yang panas. Sangat panas. Bagai petir yang membakar nadi-nadi.
    Ku habisi tembok di depanku. Ku pukuli. Hingga aku tak merasakan sakit pada tanganku. Hanya hambar. Kecuali hati ini. Masih sakit sekali. Gemuruh guntur terus menggebu dalam dada. Aku gila.

    Cinta yang aku tunggu enam tahun untuk ku ungkapkan kini direbut orang. Sahabatku sendiri di asrama telah menjalin cinta dengannya sejak dua bulan lalu. Aku terlambat.
  • Quote1

    Quote1




    Namamu mengenang pada episode do'a-do'a
    Menyeruak aroma yodium mengendap lindap di atas langit rahasia
    Serupa cahaya mega mencair nan luruh dari lintas cakrawala
    Hanya saja, perih menantimu menggarami teluk teluk hati ini yang mengering


    Gambar diambil dari: dream.co.id
  • Serdadu Cinta

    Serdadu Cinta


    Serdaduku datang membawakan gergaji untukku. Dia nampak lelah memuntahkan sebongkah raut wajah yang lelah. Aku tak tahu mengapa dia gagal. Dan gergaji itu untuk apa. Kemudian dengan tangan yang lunglai dia berikan gergaji itu untukku. Dia berucap, “Maaf bos, tadi aku habis di lempar gergaji oleh nenek lampir, dia kira aku maling. Aku lari terbirit-birit tadi..”
  • Puisi Perjuangan Santri di Bumi Airlangga

    Puisi Perjuangan Santri di Bumi Airlangga



    Titik demi titik perjalanan kita akan membentuk sebuah garis kehidupan
    Tiap ulasnya mempunyai warna warni perjuangan
    Kawan, kita dihempas dari tempat yang berbeda berkumpul dalam ruang yang sama
    Keluarga, sahabat, guru-guru kita tinggal demi sebuah cita-cita
    Kawan kita bergerak maju bukan hanya untuk kita tapi demi bangsa dan agama
    Kita ditopang dari uluran tangan rakyat
    Butir-butir nasi yang kita makan adalah sebuah pemberian dari rakyat
    Janji-janji yang kita tulis dalam selembar kertas putih akan menuntut kita untuk patuh dan terikat
    Tapi bukan itu kawan, seharusnya kita sadar..
    Perjuangan kita bukanlah sebuah harga mati agar kita   mengembalikan materi kepada rakyat
    Dan perjanjian itu bukanlah sebuah tuntutan atau beban berat
    Mereka hanya butuh keikhlasan kita untuk mengabdikan apa yang kita punya
    Kawan, perjuangan kita masih diambang pembuktian
    Inilah saatnya kita memberi bukti-bukti bahwa kita adalah santri pilihan
    Di bumi Airlangga kita akan dipertemukan dengan jawara-jawara yang hebat
    Selamat mengepalkan tangan untuk segala tantangan dan cobaan

    6 agustus 2012
    Semangat kami untuk adik-adik penerima beasiswa :)
  • Kelabu

    Kelabu



    Kelabu
                Tik-Tak… Tik-Tak… Tik-Tak…
                Begitulah bunyi jarum jam yang terus bergulir kala jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Ada seseorang yang tengah terjaga dari mimpinya. Ia melihat jam di kamarnya lalu mengusap wajahnya. Ia tergopoh-gopoh dari tidurnya.
                “Sialan… Mimpi buruk lagi… Ah… Sulit banget tidur nyenyak…”
                Karena tak kuat menahan kantuk, ia berusaha untuk tidur. Tapi perasaan dan pikirannya yang berkecamuk membuatnya sulit sekali untuk tidur lagi. Ia memutuskan untuk turun dari lantai kamarnya menuju kamar mandi dan dapur. Membasuh wajahnya dengan air dan ia lanjut dengan membikin kopi hangat. Memang kontras sekali apa yang ia lakukan dengan apa yang ia inginkan. Kalau bicara soal kontras semacam itu, sebenarnya memang hidupnya penuh kontradiksi.
                Seperti halnya, ketika ia ingin sekali kuliah di bidang kesenian karena dia punya bakat di situ, eh malah ia terdampar di teknik elektro. Kasihan sekali. Namun itu bukan hal yang utama sebenarnya. Ada semacam luka darah bernanah di hatinya yang ia pendam dan tanggung sendiri.
                “Belum tidur nak?” Suara lembut dari belakang mengejutkannya.
                “Eh Bu… Udah tadi bentar…. Ibu kok udah bangun?” Jawabnya.
                “Hmmmm… Ibu ketiduran tadi… Nunggu Ayahmu katanya tadi ada urusan di rumah temennya tapi sampai sekarang belum pulang-pulang…” Sang Ibu menatapnya dengan mata sayu. Kelihatan raut wajah yang begitu lelah.
                “Sabar bu… Ibu tidur saja dulu… Ibu lelah seharian kerja...” Pintanya.
                “Iya nak… Kamu juga tidur ya…”
                “He’em bu...”
                Sedetik terakhir ia menatap mata Ibunya. Ia dapat mengerti ada semacam aliran listrik yang sama arusnya meski beda voltase yang saling menggetarkan. Ia hanya bisa melanjutkan langkahnya dengan membawa segelas susu menuju kamar.

                KESIANGAN!!!
                Begitulah pekerjaannya akhir-akhir ini, semua karena sulitnya ia tidur malam. Padahal hari ini dia ada jadwal konser menyanyi di acara pernikahan teman SMP-nya.
                “Arrrggghhhhh... Udah Jam 9…” Ia menatap kaget jam dindingnya.
                Secepat kilat ia menuju kamar mandi. Tak berselang sampai lima menit, ia telah selesai. Cepat-cepat juga ia memakai baju dan menuju dapur untuk membuat roti susu. Makanan cepat saji yang jadi handalannya.
                “Eh adek-adek udah pada bangun…” Ia mengusap kepala adik-adiknya yang sedang asyik nonton televisi.
                “Lah kamunya aja yang kesiangan…..” Kakaknya yang hitam manis itu menimpali.
                “Hahahahahaha… Maklum kak, artis… Bangunnya siang…” Ia menjawab.
                “Uuuuuuwww…..” Kakak dan dua adiknya serempak.
                “Hahahahaha… Sudah… Sudah... Aku berangkat dulu ya…”
                Di depan pintu Ibunya sedang berdiri melihat tingkah anak-anaknya. Tepat saat itulah ia segera mencium tangan ibunya dan langsung bergegas dengan sepeda motor ninja-nya. Saat sampai di gerbang rumah. Ia dapati ayahnya baru saja pulang.
                “Sibuk sekali yah…” Sindirnya.
                “Iya nak… Tadi malam banyak urusan bisnis di rumah teman...” Jawab ayahnya dengan muka sumringah.
                “Ohh…” Jawabnya dingin di tengah-tengah suara motor yang sudah siap untuk melaju.
                “Mau kemana nak?” Ayahnya sedikit bertanya.
                “Biasa yah.. Artis…. Berangkat dulu ya….” Ia langsung melajukan motornya dengan cepat.
                Ayahnya terakhir kali menimpalinya dengan senyum sumringah yang tak terlihat olehnya.
                Sampai di tempat ia langsung disambut teman-temannya. Suara meriah penuh lagu-lagu dari soundsystem terdengar menghiasi acara pernikahan. Terlihat dua orang MC tengah berada di depan siap untuk menyambutnya. Rupa-rupanya lagu-lagu itu didendangkan untuk menunggunya yang sedari tadi sudah dinanti-nanti oleh teman-teman dan tamu undangan.
                “Iya langsung saja kita sambut artis kita…  Bagus San Wardana…”
                “Isan!! Isan!!” Teriak bebarapa tamu undangan. Ya, Isan adalah panggilan akrabnya.
    Riuh penonton yang juga teman-temannya sendiri memeriahkan acara pernikahan. Isan dengan tegap langkahnya menuju panggung dan siap dengan mic yang ia pegang. Seketika itu musik dibunyikan dan ia menyanyikan sebuah lagu spesial bahasa inggris. Marry me-nya Bruno mars. Tamu undangan asyik mendengarkan dengan tetap fokus pada hidangan makanan yang tersedia aneka menunya.
    Nampak ada seseorang teman yang melihat Isan dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia lihati Isan terus. Seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Isan. Isan pun merasa curiga. Ia ingin sekali menemui temannya usai lima lagu yang ia nyanyikan selesai. Temannya itupun nampak menunggu di tempat duduk sebelah barat panggung.
    “Rud.. Rudi…” Isan memanggil temannya usai tampil. Rudi menoleh seketika. Ia masih dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
    “Gimana San?” Rudi menyahut.
    “Kamu ada apa dari tadi kok ngelihatin aku?” Isan memulai rasa penasarannya.
    “Gini San……. Soal tadi malam…” Rudi mendekati Isan.
    “Ada apa tadi malem Rud?”
    “Ayahmu ada di rumah ndak?” Suara Rudi memelan.
    “Hmmm… Ndak… Ada apa Rud?” Isan tambah penasarannya.
    Akhirnya Rudi berbisik pada Isan. Ia menceritakan suatu hal yang selama ini juga dicurigai oleh Isan. Cerita Rudi itu memperkuat dugaan yang sudah menggumpal di hati Isan. Dengan raut muka yang berkeringat karena panasnya kota Surabaya, Isan langsung undur diri dari acara dan pulang ke rumah.
    ----------------
                “Ayah mana bu?” Suara Isan masih tersenggal karena nafasnya yang naik turun usai menaiki ninja-nya dengan sekencang kilat.
                “Di dalam San.. Lagi tidur…” Ibu menjawab halus.
                “Oh……” Isan menaruh helm-nya. Seperti ada letupan yang hendak keluar dari mulut Isan.
                “Kenapa nak? Kok wajahnya merah hitam gitu…” Ibu mendekati Isan.
                “Ibu jangan tahu dulu….. Ini urusan Isan sama Ayah…”
                “Ada apa to nak? Jangan marah-marah sama Ayah ya…”
                “Ya…. Lihat nanti saja bu…” Suara Isan penuh letupan.
                Tak disangka, Ayah Isan keluar dari pintu rumah. Ia sudah siap dengan baju rapinya. Wajah yang nampak segar usai mandi dan rambut yang kelimis tertata rapi. Dengan topi cokelat kesukaannya, Ia hendak memakainya dan melangkahkan kaki. Hampir melewati tempat duduk di teras rumah Isan menyambutnya. Ia pun seketika berhenti.
                “Yah.. Mau kemana?” Sejarak satu meter dengan ayahnya ia berujar. Tetap dengan raut muka merah hitam dan mulut yang sudah siap untuk meletup.
                “Ini mau ambil baju-baju di tempat temen Ayah… Persediaan baju di Butik kita udah mulai habis….”
                “Hmm… Beneran yah?” Isan nampak tak percaya.
                “Iya bener… Ada apa nak? Wajahnya kok murung gitu….”
                “Jangan sok mengalihkan gitu yah… Tadi malam Ayah darimana? Jujur….” Isan masih belum padam.
                “Lah kan Ayah sudah bilang.. Kalau tadi malam Ayah ada urusan bisnis sama temennya..”
                “Sampai larut malam??” Isan terus memburu.
                “Iya sampai malam…” Ayahnya-pun ikutan tegang. Ia mencoba mengajak Isan untuk duduk dulu.
                “Isan ndak percaya Yah… Isan sudah lama curiga soal ini… Banyak orang yang sudah beberapa kali ngasih tahu Isan… Ayah yang jujur… Isan ndak percaya Yah….” Letupannya pun tambah banyak. Isan sudah tak bisa menahannya.
                “Kenapa to nak… Kamu santai dulu.. Jangan su’udzon dulu sama Ayah…” Peluh keringat mulai keluar di kening Ayah Isan. Ibunya pun ternyata sedari tadi mematung di teras rumah. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan. Seolah sang Ibu ingi n sekali datang mendekati keduanya, tapi ia masih belum berani.
                “Ah… Ayah jangan bertele-tele… Isan sudah tahu semuanya.. Semua kelakukan gelap Ayah.. Jujur Yah… Isan udah ndak tahan lagi…. Isan sudah tahu ini sejak kelas 3 SMA yah… Kasihan Ibu Yah… Kalau Ayah masih seperti itu terus.. Isan mending berhenti dari kuliah.. Isan udah malas melakukan apa-apa…” Gundukan perasaan marah telah keluar di mulut Isan. Hal yang selama ini ia pendam demi Ibunya.
                Raut muka sang Ayah nampak mengkerut. Sepertinya ia tak bisa menyangkal apa yang telah Isan katakan. Sang Ibu mendekati keduanya. Wajahnya nampak sedih sekali. Terlihat buliran air mata telah membasahi pipinya.
                “Nak… Sudahlah… Biarkan Ayahmu berpikir atas kesalahannya itu…” Sang Ibu mengelus pundak Isan.
                “Lho Ibu sudah tahu?” Isan nampak kasihan dengan Ibunya. Ia berdiri. Melihat raut muka Ibu yang penuh tangis, Ia mengusap buliran air matanya yang masih tersisa. Tak kuasa Isan juga menitikkan air mata yang selama ini pula ia simpan demi Ibunya. Ia tak pernah sama sekali memperlihatkan apa yang menjadi rahasia gila di keluarganya. Ia tak ingin sang Ibu tahu sedikitpun. Tak ingin sama sekali.
                “Ibu sudah tahu… Jauh sebelum kamu tahu nak…” Tak kuasa buliran air mata keluar lagi dari pelupuk mata sang Ibu. Isan-pun tak tahan melihatnya. Isan memeluk ibu dengan dekapannya.
                Tiba-tiba di kaki sang Ibu, ada yang memegangi. Sang suami berlutut di hadapan istrinya. Kemudian dengan suara penuh penyesalan, ia mengakui kesalahannya.
                “Bu… Ayah ndak akan mengulangi lagi.. Ini terakhir kalinya Ayah seperti ini… Maafkan Ayah Bu….”
                Sang Ibu dengan belas kasihannya meminta sang Ayah untuk berdiri. Ia memaafkan kesalahan suaminya itu. Ia juga mengatakan penuh harap agar apa yang menjadi masa lalunya jangan pernah diulangi lagi. Isan menyaksikan itu semua. Isan nampak sedikit lega setelah sang Ayah mau mengakui kesalahannya di depan Ibu.
    --------------------
                Keluarga Wardana menjalani hari seperti biasanya. Ibu yang selalu menyiapkan kebutuhan keluarga. Ayah yang bekerja dengan usaha butik di samping rumahnya, yang memang strategis sekali karena rumahnya dekat dengan keramaian kota dan berada di pinggir jalan raya. Kakak Isan juga masih sibuk dengan bisnis celana jeans yang ia rintis usai lulus kuliah. Adik-adiknya menjalani sekolah SMP seperti biasanya. Dan Isan seperti biasanya pula menggunakan motor ninja-nya untuk berangkat ke kampus ITS menjalani kuliah yang meskipun di awal tak begitu ia sukai.
                Semuanya berjalan lebih baik dari sebelumnya. Keluarga itu lebih cair. Memang suasana itu yang Isan nanti-nantikan karena selama ini keluarganya terasa beku akibat jalan hidup sang Ayah dengan sisi gelap yang tak ia sukai. Ia bersyukur sekali sang Ayah mau bertobat dan tak mengulangi kesalahannya itu. Meskipun begitu Isan terus coba untuk memantau sang Ayah. Ia terus lihati gerak-gerik sang Ayah agar kejadian yang menyakitkan sang Ibu dan dirinya tak terulangi lagi.
                Suasana pagi di depan rumah Isan nampak riuh lalu lalang motor. Pantas saja, Kota Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia. Berjuta orang dengan berbagai aktifitasnya nampak begitu asyik untuk dicermati. Ada pegawai, ada pedagang, ada pelajar dan tentu masih banyak lagi. Adik-adik Isan sudah berangkat sekolah. Kakak Isan juga sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ayah nampak bersiap-siap. Sedang Ibu Isan sedang membersihkan piring-piring setelah makan pagi.
                Isan yang masih santai-santai saja karena kuliah masuk siang, tengah duduk di depan ruang televisi. Ada sebuah SMS masuk tapi bukan dari telepon genggamnya. Ia dapati sebuah handphone di meja sebelahnya. Tak sengaja ia mengambilnya. Terlihat nama terang di layar HP tersebut.
                Dari: Cantika (085731225678)
    Sayaaaaaaaaaang… Lagi dimana? Sudah siap belum? Udah tak tunggu lho..
                Begitulah tulisan yang ia baca saat ia tak sengaja membukanya. Tak berpikir lama Isan sudah bisa menyimpulkan. Luka yang hendak mongering kini basah lagi. Isan sudah tahu pasti apa yang telah jadi permainan ‘petak umpet’ ayahnya. Ternyata taubatan sang Ayah adalah kebohongan besar. Ini semua tak bisa dibiarkan. Isan kemudian berlari dan membanting HP di depan ayahnya.
                “Sialaaaann!!!”
  • Karsa Angklung

    Karsa Angklung


    Karsa Angklung

    Lagukan aku dalam lekukan musikmu yang sederhana
    Layangkan aku di sela-sela pukulan penuh nada
    Engkau mendayung lembut menyentuh jiwa
    Merayap-rayap di keheningan
  • Sulit Haru

    Sulit Haru


    Sulit Haru
    Oleh: Saendahe
    Bergiring-giring hati mematuhi janji
    Berontak otak tak mampu menggertak
    Aku pilu mengadu sendu
    Melihat mayat-mayat hidup di bumi pertiwi
  • Titik Putih Itu

    Titik Putih Itu


    bacalah.... nantikan kejutan di dalamnya...

    Titik Putih Itu

    “Kring..Kring…” Suara sepeda pak yai begitu jelas terdengar  di telinga Neng Cisi. Sekitar beberapa detik lagi pak yai pasti akan sampai di Ndalem. Neng Cisi bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan kopi kesukaan pak yai. Kopi kapal kuda. Itu merek kopi ternama di desanya. Ibu nyai sudah sekian lama sedo. Jadi neng Cisi selain sebagai anak, dia juga harus berlaku seperti ibunya. Mau mengabdikan diri untuk Abahnya. Abah Huda. Itu panggilan pak yai. Beliau adalah pengsuh pondok Darul Kalam di Jogja.
  • Dedikasi Sepi

    Dedikasi Sepi


    Dedikasi Sepi

    Jika derai kecil ini berdosa
    Bagiamana bisa aku mendaki
    Jika jutaan luka di tangan dan kaki bagai busa
    Terus menerus ada, tak henti sampai mati
    Akankah aku tenggelam di jiwa yang meradang
    Ataukah aku harus kaku membatu di ujung yang tak menentu
    Aku bukan asa yang bergelora
    Hanya secuil tanah yang mengucil
    Aku terpencil di sela-sela nafas dunia
    Mungkin kau akan temukanku di balik terumbu
    Atau di pori-pori angkasa yang membiru
    Semesta ini penuh keramaian
    Namun ada ruang hampa berbalut kesepian
    Aku tak mengutuk jiwaku agar memasukinya
    Bahkan hanya sekedar untuk mengintipnya 
    Tiba-tiba angin yang membawa api
    Memaksa aku berdedikasi pada sepi


    By: Saendahe
                                                     
  • Dunia Musuh dan Teman

    Dunia Musuh dan Teman


    Semedi, aku dibuat pusing kepala.
    Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
    Aku maunya apa?
    Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
    Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
    Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
    Aku amuk, mereka berkecamuk.
    Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
    Kini, aku sudah bosan...
    Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
    Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.

    *Puisi ditulis di atas sajadah yang dilipat sebagai alas duduk, diterangi lampu belajar nan sukar. Aku masih menguatkan mata.
  • Jarak Tanpa Kaki

    Jarak Tanpa Kaki


    Jarak Tanpa Kaki

    Lelaki tanpa kaki berjalan menapaki malam penuh kenangan
    Seret demi seret tangannya yang kuat membuatnya terus bertahan
    Andai badai menerpanya bukan lunglai yang akan diterima
    Dia tetap menjaga lembaran kertas dari bulan purnama di hatinya
    Pengorbanan kaki menjadi saksi
    Demi cita ia relakan jarak
    Meski jauh menjadi spasi
    Bahkan waktu terus menolak
    Detik detik membuatnya lupa
    Tak mampu ia membendung cinta
    Hingga lautan bergejolak mencipta tsunami di dada dan kepala
    Propaganda dahulu menyusut menjadi titik
    Namun titik-titik itu terus menghujan mencipta grafik
    Air  tak mampu menetralkan rasa
    Asin itu masih terasa di lidah yang terbuka
    Memang benar kini aku tak menginginkanmu
    Tapi hidupku terus berintegrasi denganmu
    Jarak yang tanpa kaki tak menjadi luka untuk dilalui
    Keikhlasanmu mencipta haru
    Buatku merenung karena ingin menghilangkanmu
    Maafkan aku kasih aku terbang terlalu jauh
    Hatimu pedih merintih terpenuhi keluh peluh yang menderuh
    Aku tak sanggup mengatakannya apalagi mengulanginya
    Entah apa takdir untuk kita
    Jarak tanpa kaki dipenuhi doa-doa cinta

    By: Saendahe
  • Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Merangkai Diksi

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.