Serdaduku datang membawakan gergaji untukku.
Dia nampak lelah memuntahkan sebongkah raut wajah yang lelah. Aku tak tahu
mengapa dia gagal. Dan gergaji itu untuk apa. Kemudian dengan tangan yang
lunglai dia berikan gergaji itu untukku. Dia berucap, “Maaf bos, tadi aku habis
di lempar gergaji oleh nenek lampir, dia kira aku maling. Aku lari
terbirit-birit tadi..”
Kasihan sekali Sandi, serdaduku itu. Dia hanya
ku kasih limapuluh ribu. Ku suruh untuk melempar surat di kamar Sita malam
hari. Eh malah kena murka si nenek lampir. Dalam batinku Kasihan..kasihan...
Aku memang sudah dua puluh tujuh kali menyuruh serdaduku itu untuk mengirim
surat. Di tempat berbeda dan waktu yang berbeda. Sukses duapuluh enam kali dan
gagal satu kali. Padahal sudah ku siapkan tiga puluh surat untuk Sita, sii anak
pujaanku itu. 30 surat untuk 30 hari menjelang ultahnya. Waktu yang tepat untuk
ku ungkap.
Hmmm.. bagaimana ini, apa aku saja yang
mengantarkannya… Ah serdaduku saja.. tinggal empat kali lagi.
Sandi yang anak pembantu di rumahku itu juga
sekolah bersama aku. Dia juga satu kelas denganku dan Sita. Semua anak mengira
kami kakak adik, atau sepupu-lah karena mereka melihat kami tak jauh beda. Cara
berpakaian dan berdandan. Wajarlah ayahku juga baik sama Sandi, ibu juga.
Apalagi kalau soal baju aku sering diminta ibu untuk ngasih baju bekas ke
Sandi, meskipun masih bagus. Namun walau begitu Sandi tetaplah serdaduku, bisa
aku suruh semauku. Hanya satu syarat uang. Sandi mata uang.
Soal kulit, aku sangat iri dengan Sandi. Aku
yang berkulit gelap ini seolah seperti kopi di dekatnya. Dia lebih nampak cerah
dibanding aku. Meski soal wajah tak terlalu timpang. Hanya saja dia kurus, dan
aku sedikit kekar. Perbedaan itu yang membuatku tak mau menganggapnya seperti
saudara sendiri. Terlalu menyakitkan. Apalagi jika dia tak memanggilku dengan
julukan “bos” inginku banting dia sampai patah. Aku dan dia sudah
berkonstitusi. Pokoknya kalau tidak ada orang dia harus panggil aku bos. Aku
memang anak yang jaga image. Di depan orang kami biasa. Namun di belakang
orang-orang dia aku siksa. Kejam bukan?. Itu tak sebanding dengan apa yang
sudah ku berikan pada Sandi. Aku iri. Masih tetap iri.
-----------
Masuk kelas. Jam tujuh tet.. Saat itu
aku di antar pakai mobil. Dan biasa serdaduku itu membuntut aku. Saat ku buka
pintu mobil. Nampak wanita berkulit putih mulus sedang mengayuh sepeda. Sita.
Dia nampak tergesa. Dari arah berlawanan ada pedagang yang hendak ke pasar juga
sedang mengayuh sepeda dengan kencang. Dan sekejap. Braaaakkk..
Saat itu sial untukku. Aku mau lari malah ayah
menyuruhku untuk mengambilkan catatan no Hp di celananya. Dia sedang menerima
telepon. Dan tambah sialnya Sandi itu yang berlari. Dia langsung menghampiri
Sita. Karena luka di kakinya, sandi menuntun sita untuk dibawa ke Unit
Kesehatan Siswa (UKS). Hatiku remuk redam. Aku kasihan dengan kejadian yang
menimpa Sita. Namun ternyata aku yang lebih pantas dikasihani karena kejadian
yang menimpa hatiku.
-----------
Setelah kejadian di pagi itu Sandi menemuiku
di kamar. Dia nampak menyesal sekali. Namun dia menjelaskan.
“Bos.. kamu kan tahu kalau tadi aku ndak
buru-buru lukanya Sita tambah parah”
Aku diam..
“Bos.. maaf.. aku akan menebus semua
kesalahanku deh.. Asal bos mau maafin..”
“Bener?” tanyaku sambil menyeramkan muka.
“Iya bener..”
Saat itu aku manfaatkan dia betul-betul. Empat
surat yang ku simpan di lemariku ku keluarkan.
“Ini.. kamu kasihkan dia dalam dua hari ini. Dua
hari dua surat. Siang dan malam. Karena tepat setelah dua hari ini dia ultah.
Ingat perkataanku dulu, jangan sampai dia tahu yang ngasih surat kamu.
Sembunyi-sembunyi!” aku lempar ke mukanya. Kemudian aku katakan di sebelah
telinganya, “Tanpa upah.”
Dia nampak tertegun kemudian meninggalkanku
dengan wajah lesu. Saat dia sampai pintu, “Oh ya.. jika kamu gagal. Ingat
ancamannya apa!! Aku akan minta ayah untuk memulangkanmu saja ke desa. Sita
adalah cinta pertamaku. Jadi harus berhasil. Nanti ada hadiah untukmu Sandi..
tenang saja..”
Aku
sok mengancam Sandi. Padahal belum tentu juga ayah menyetujui permintaanku. Itu
hanya ancaman. Biar serdaduku itu takut. Aku tertawa lepas di kamar. Aku
membayangkan keberhasilanku menekuk serdadu dan memperoleh cinta dari pujaanku,
Sita.
------------
Semuanya lancar. Serdaduku berhasil. Kini
tinggal saatnya aku menjadi pengeksekusi cinta. Aku tak mau melewatkan saatnya.
Dalam surat terakhir, ku tulis tentang tempat dan waktu untuk sita menemuiku.
Tepat di taman kota, jam 09.00.
Pagi itu, seolah hatiku berdentum seperti
alunan musik koplo. Benar-benar aneh namun mendebarkan. Aku sudah sekian lama
menantikan kesempatan ini. Cintaku pada Sita adalah cinta pertama. Semenjak
masuk SMA aku sudah menyimpannya. Begitu dalam. Semakin dalam. Dan sekaranglah
saatnya aku membawa dia di dasar laut jiwaku.
Gadis anggun memakai rok dan baju lengan
panjang nampak terlihat di kejauhan. Rambut bergelombang yang pendek dan hitam.
Sinar matahari nampak menyinari wajahnya. Dia mendekat, semakin mendekat.
“Roni?? Kok di sini.. sedang apa?” tanya gadis
itu
“Menunggumu Sita..” Aku jawab dengan percaya
diri.
“Menungguku?? Untuk apa?”
“Sudah.. sini duduk dulu”
Saat dia duduk di jarak setengah meter itu
baru kurasakan grogi. Bulu-buluku bergetar. Aku nampak canggung.
“Ada apa Ron? Cepat ya.. aku sedang ditunggu
seseorang ini”
Aku kaget, “Seseorang siapa?”
Dia tersenyum manis dan cantik sekali, “Ini
Ron.. ada laki-laki misterius yang mengirimiku surat sebanyak 30 kali. So sweet
banget pokoknya..” dia tersenyum lagi.
Aku mengembang.. hatiku benar-benar
mengembang. Rasanya aku ingin memeluk matahari. Seolah taman itu menjadi istana
kerajaan. Sita adalah princess-nya dan aku prince-nya. Aku
memaniskan senyuman, “Wah.. beruntung sekali ya kamu Sita..”
Dia nampak terburu, “Ron.. ini waktunya lebih
dari yang ada di surat.. Aku pergi dulu ya..”
“Bentar Sita.. memangnya tidak ada cirri-ciri
yang ditulis di surat itu?”
“Ciri-ciri orangnya ya.. Dia pakai baju
kotak-kotak warna hijau..”
Aku tambah tersenyum, karena di taman itu saat
itu hanya aku yang memakai baju warna hijau kotak-kotak. Kemudian aku memberanikan
diri untuk mengatakan semuanya. Tentang surat itu dan tentang cintaku.
Tapi…
“Kenapa kamu ndak percaya Sita?”
“Ya aku ndak percaya Ron.. kalau itu kamu. Di
suratnya kan hanya di tulis pengagumku bukan kamu Ron..”
“Iya pengagummu itu aku Sita..”
Dia masih tak percaya. Dia betul-betul tak
menggubris kata-kataku. Dia malah memalingkan muka. Dan dengan lirih dia
berujar, “Yang menulis aku yakin Sandi.. Meskipun dia sembunyi-sembunyi
memasukkan Surat ke dalam tasku atau kamarku, aku tahu kalau itu dia. Nenek dan
teman-tamanku yang memberitahuku. Sebenarnya aku sudah datang dari tadi. Ku
kira dari jauh kamu adalah sandi. Ternyata kamu Roni.”
Hatiku yang mengembang kini menjadi mengempis.
Detak jantung yang tak beraturan kini berubah menjadi pelan. Seolah gergaji
telah mematahkan cintaku. Aku diam. Diam tanpa ocehan.
Sita-pun ikut diam. Selama satu jam tanpa
kata. Aku seolah terperangkap dalam taman neraka. Aku gelap. Penglihatanku
gelap. Mata hatiku gelap.
Dan dengan sangat berat aku menanyakan,
“Berarti kamu mencintai Sandi?”
Sita-pun tak kuasa menahan tangis karena dia
tak mampu menahan rasa. Yang dicintainya bukanlah aku namun Sandi.
Serdadu brengsek. Namun aku harus mengakuimu.
Sandi si anak pembantuku. Kamu pantas menjadi bosku. Bos yang mengajarkanku
tentang arti menghargai serdadu. Aku kena getahnya..
By
: Saendahe


0 komentar:
Posting Komentar