• Episode Bulan Juli


    Episode Bulan Juli
    Oksigen terhirup melimpah. Masuk cepat ke dalam paru-paru. Darah mengikat oksigen. Serasa tak mau lepas. Sangat erat. Seperti rindu yang pekat. Meski tiap detik ia bertemu. Tak mau kehilangan waktu. Mereka bercumbu dan mengalir. Hingga berupa-rupa kalori terbakar menjadi energi. Menggerakkan tangan. Memukul.
    Deemmm.. Buuuk... Dash...!
                Tangan itu sakit. Tapi hati lebih sakit. Awan ikut iba melihatnya. Buliran air menetes.
    Tes..Tes..Tes..
    Angin membawa pesan kerinduan yang berduri.
    -
                Pesan itu. Di Surabaya, 11 September 2004. Aku mendapatkannya dari sorot mata bidadari di balik jendela. Ia tengah sibuk menyapu. Membersihkan ruangan penuh debu. Waktu itu aku juga menyapu. Hanya saja di jarak kejauhan. Jarak yang hanya bisa dijangkau oleh mata. Ku curi pandang untuk menikmatinya lebih dalam. Senyum yang tentram. Aura yang menyejukkan. Aku terbawa dalam lamunan. Namun...
                “Suuuut... Ndak boleh Gir...” Teman akrabku menegur.
                “Hmmm.. Bentar aja kok.. Ndak boleh?”
                “Nanti kalau ketahuan pengurus asrama.. Bisa gawat..”
                “Hmmm..”
                Aku kecewa. Namun seberkas ingatan itu tak mau pergi. Maka aku menikmatinya melalui ingatan. Wajah itu. Senyum itu. Hingga tertidurpun aku selalu memimpikannya. Umur remaja ini telah memasuki kawasan ternama. Bernama cinta.
                Hari-hari berikutnya aku rajin sekali menyapu halaman. Tak ingin membuang kesempatan. Meski bukan jadwalku. Tapi aku meminta untuk diberikan jatah. Karena aku ingin mengumpulkan waktu agar bisa menikmati senyumnya lebih lama.
                Bangunan bertingkat empat. Bercat hijau muda dan tua. Berdiri menara di depannya. Itulah asrama sekolahku. Asrama Biruni. Aku tidur di tempat itu. Belajar di asrama itu. Dan kini aku menyapu juga untuk asrama itu. Meski sebenarnya ada tujuan lain yang tersembunyi. Tentang hati yang kasmaran.
                Di sebelah bangunan yang aku tinggali. Juga berdiri bangunan yang besar namun hanya bertingkat dua. Lebih tertutup. Lebih terjaga. Hanya perempuan yang tinggal di situ. Dan di tempat itu pula hidup seorang gadis yang aku kagumi sejak pertama kali aku menyapu.
    -
                Lampu nampak terang. Aku terduduk di kamar. Ku buka lembaran putih di depanku. Kertas. Ku angkat penaku. Menulis. Ku tulis sebuah puisi cinta. Ingin sekali ku berikan padanya. Tapi tak berani. Undang-undang asrama melarangku berhubungan dengan gadis. Apalagi gadis dalam asrama. Hmmm. Aku bergetar. Berduka pada cinta yang aku miliki. Cinta pertama seorang pria remaja berumur tiga belas tahun.
    Lima tahun aku memendamnya. Ku simpan dalam-dalam. Dalam hati yang penuh kesabaran. Namun juga hati yang tak punya keberanian.
                Aku tak pernah merasakan cinta yang begitu menggebu seperti ini. Meski aku coba melupakannya namun ku rasakan ia selalu menjalar lembut di setiap bait hidupku. Menyapaku di waktu pagi. Dan mencipta angin rindu di waktu malam. Ku tunggu waktu yang berbicara.
                1 Juli 2010. Kini liburan sekolah telah tiba. Aku sudah kelas tiga SMA. Rasanya aku ingin pulang ke rumahku di luar jawa. Pulau Buru. Keluargaku tinggal di sana. Namun kata ibu aku pulang seminggu lagi saja. Di sana sedang banyak konflik antar suku. Maka ku turuti kata ibuku.
                Di asrama selalu sepi jika libur tiba. Sangat sepi sekali. Hanya suara motor dan mobil yang penuhi telingaku. Aku menjaga asrama dengan tiga orang temanku. Mereka juga belum pulang. Saat itu aku membeli handphone dari uang hasil tabunganku. Sebelum teman-temanku pulang aku banyak tanya nomor ponsel mereka. Agar aku bisa bertanya kabar dengan mereka saat di rumah.
                Entah mengapa aku ingin sekali mencari nomor ponsel dari seorang yang aku rindukan dari dulu. Ku tanyakan ke sahabatku. Satu persatu. Hingga satu,dua, tiga, sepuluh kali aku bertanya dari orang yang berbeda-beda. Aku mendapatkanya. Jasmin. Nama yang aku kagumi.
                Aku kirim pesan. Hingga sehari tak ada jawaban. Rasanya aku tak mau berlama-lama. Ku telepon ia.
                Tuuuuut..Tuuuuuuut.....Tuuuuuuuut..
                Diangkat.
                “Assalamualaikum...” Ia menyapa merdu.
                “Waalaikumsalam... Benar ini Jasmin?”
                “Iya benar sekali mas.. Maaf ini siapa?”
                DENG...
    Aku bergetar. Malu. Baru kali ini aku berbicara dengannya. Meski dari jarak yang jauh.
                “Hmmm.. Kamu tahu nggak?” Aku malah balik bertanya. Grogi sekali rasanya.
                “Ya ndak tahu lah mas.. Gimana sih.. Aku matikan ya....” Dia kesal.
                DEG...
    Aku tak mau menghamburkan kesempatan.
                “Jangan Jasmin.. Aku sudah menunggu waktu-waktu ini.. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu...”
                “Hmmmm.. Iya kamu siapa dulu?”
                “Aku Giri..”
                “Oh Giri...” Ia nampak sudah mengenalku. Jelas. Karena aku adalah orang yang sering digosipin dengan dia di asrama.
                “Hmm.. Pasti kamu kenal aku... Aku sudah memendamnya enam tahun lalu...”
                “Memendam apa Gir?”
                Pelan-pelan aku berkata, “Aku cinta kamu..”
    Aku mengungkapkannya begitu saja. Hatiku berdoa. Aku takut jika ia menjawab dengan jawaban yang tak aku inginkan.
                Penuh getaran ia menanggapi kata-kataku, dengan melodi hati yang tak stagnan, “Hmm.. Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Padahal aku juga mencintaimu dari dulu.. Aku sakiit sekali menunggumu..”
                Kata-katanya itu membuatku merasa sangat bersalah.
                “Maafkanlah aku Jasmin.. Aku baru berani mengatakannya sekarang..”
                “Hmmm Ya sudah..” Ia sepertinya kecewa.
                “Kamu mau kan menjalaninya denganku?”
                “Hmmmm..” Begitu jawabnya singkat. Antara mau dan tidak.
                Namun aku lega. Lega sekali. Mulai detik itu aku seringkali berhubungan dengannya melalui pesan singkat dari ponsel. Berkirim pantun. Berbalas puisi.
    Hingga aku merasakan bunga-bunga cinta menebar keharuman. Berwarna-warni seperti musim semi di eropa. Menjelma indah di dalam hati.

                Satu bulan aku menjalin cinta dengannya. Satu bulan sudah aku bahagia bersamanya. Meski ia nampak ada sesuatu yang disembunyikan. Aku tak peduli. Yang jelas dia juga berkata cinta kepadaku. Satu bulan aku bahagia.
                Namun... Sore ini... Di Pulau Buru...
                Senja dilukisi awan gemawan yang indah. Mega mencair bak tinta merah yang tumpah. Gerombolan burung pulang ke rumahnya masing-masing. Bersiap menyambut malam untuk beristirahat. Tapi berbeda denganku. Mega itu justeru menjelma sendu di hatiku. Di pinggir sawah aku berdiri. Menghempas sepi yang menyekap. Ku telepon ia sekali lagi untuk memastikan kata-katanya.
                “Apa benar itu?”
                “Ya benar.. Maafkan aku kita harus putus..” Ia mantap sekali menjawab.
                “Apa alasanmu?”
                “Tak ada alasan.. Aku hanya tak bisa terus bersamamu..”
                “Benar?? Hanya satu bulan saja kita bersama??”
                “Hmm.. Iya..” Ia nampak hambar.
                “Hahahaha... Sebenarnya aku tak pernah serius dengamu.. Ini ku lakukan hanya untuk memenangkan tantangan dari temanku.. Aku taruhan dengan temanku untuk menaklukanmu.. Sungguh aku tak pernah serius!!” Aku terbahak-bahak menjawab. Jawaban karena gengsi. Jawaban yang mengenaskan. Sangat menyakitkan.
                Ia berderai tangis. Cepat-cepat ia memutuskan telepon. Dan aku hanya terpaku. Dalam senja yang menghilang.
    -
                 Liburan asrama akan habis. Tiga hari lagi. Namun aku sudah kembali di Surabaya. Perasaanku belum sembuh. Juga aku merasa bersalah. Usai aku membuat Jasmin menangis, aku tak pernah lagi bisa menghubunginya. Berkali-kali aku menelepon namun tak ada jawaban. Dan kini aku ingin mencobanya. Lagi dan lagi. Hingga satu suara bergetar di telinga.
                “Assalamualaikum.. Maaf nak.. Jasmin sedang sakit keras mulai kemarin.. Maaf ya.. Biarkan dia istirahat..” Suara seorang ibu yang membuatku haru.
                “Iya bu... Semoga Jasmin lekas sembuh..”
                “Amiiin..”
                Aku tambah bersalah. Ini karena keegoisanku. Dia sakit. Hmmm. Aku akan segera menemuinya.
                Malam ini ku kumpulkan buah-buahan, susu,  dan roti. Ku masukkan dalam satu kardus. Rapi sekali aku mengikatnya. Aku siap berangkat ke rumah Jasmin. Esok pagi.
                Matahari belum sampai menengok, aku sudah berangkat. Aku naiki angkutan yang biasa melewati pondokku. Aku berangkat dengan gigihnya.
                Aku terus melihati jalanan kota Surabaya. Tiba-tiba mataku terbelalak.
    “Hah?? Aku tak tahu alamatnya!!” Ku pukul kepalaku.
    Edan. Sungguh edan. Aku ingin ke rumah Jasmin tapi tak tahu alamatnya. Yang ku ingat hanya nama jalannya. Jalan A. Yani. Aku tak boleh berhenti. Aku tak akan menyerah. Sudah di jalan tak usah kembali. Aku tetap melanjutkan perjalanan. Demi cintaku. Aku nekat.
    Turun dari  angkutan. Aku naik angkutan lagi. Hingga tiga kali. Setelah itu aku baru sampai di jalan A. Yani. Entah nomor berapa jalan itu. Yang penting aku turun.
    Aku berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Perjalananku tak terarah. Menghabiskan jam-jam. Entah kemana aku akan berjalan. Bingung. Namun sebuah sepeda motor mendekatiku dari arah belakang.
    “Giri... Gir.. Giri...” Suara itu aku mengenalnya.
    Aku menengok.
    “Oh kamu Jal... Kamu lagi sibuk ndak?”
    Ternyata Rijal. Teman asramaku. Ada sebuah kesempatan di balik senyum temanku itu.
    “Oh.. Ndak sih..”
    “Kamu mau bantu aku ndak?” Wajahku memelas.
    “Bantu apa?”
    “Antar aku ke rumah Jasmin yuk..”
    “Oh ya udah.. Tapi jangan lama-lama ya... Soalnya dua jam lagi motornya mau dipakai bapakku..”
    “Oke.. Ayo berangkat..”
    Aku lupa kalau aku tak tahu dimana alamat rumah Jasmin. Meski berjalan atau naik motor sama saja. Aku dan Rijal memutari jalan A. Yani sebanyak empat kali. Namun tak ada hasil sama sekali.
    “Sebenarnya kamu tahu rumahnya Jasmin apa ndak?” Rijal geram.
    “Hmmm.. Kamu tahu ndak?”
    “Malah tanya.. Aku ndak tahu lah...” Rijal tambah sebal.
    “Hmmm yaudah bentar ya..”
    Ku telepon nomor teman-temanku. Satu persatu. Aku tanyai. Hingga tak ada yang tahu sama sekali. Aku hanya kenal satu orang yang Rijal juga kenal. Dina. Ia juga belajar di asrama sebelah asramaku. Kebetulan juga rumahnya di sekitar jalan A. Yani. Mungkin saja ia kenal dekat dengan Jasmin. Ku ketahui alamat rumahnya dari Rijal.
    “Yaudah ayo Gir.. Ke sana..”
    Namun nahas. Sampai sana, Dina tak ada di rumah. Aku hampir saja menyerah. Namun ibu Dina syukur sekali mau membantu. Ia menelepon putrinya. Menanyakan alamat rumah Jasmin.
    “Ini nak..” Ibu Dina memberikan sobekan kertas kecil berisi alamat Jasmin yang tadi ia tulis.
    Alamat sudah ku dapat. Cepat-cepat aku pergi ke rumah Jasmin. Lima belas menit. Aku sampai di depan rumah sederhana milik Jasmin. Perjuanganku tak sia-sia.
    “Gir.. Aku pulang dulu ya..” Rijal terburu-buru.
    “Iyaa.. Jal.. Terimakasih sekali... Hati-hati ya..”
    Akhirnya ku ketuk pintu rumah di depanku. Tiga kali aku mengetuk seorang ibu keluar menyapa. Menyuruhku untuk masuk. Kardus yang ku bawa segera ku berikan. Aku menunggu Jasmin di ruang tamu. Semenit setelah itu ia keluar.
    Sungguh aura yang dimiliki Jasmin seperti hilang. Ia pucat sekali. Ia hanya terdiam menemuiku.
    “Kenapa kamu sampai sakit seperti ini? Apa karena kata-kataku?”
    “Hmmm..” Dia hanya bergumam.
    “Aku minta maaf ya.. Apa ada masalah lain Jas? Tolong katakan sebenarnya ada apa?
    Dia hanya terdiam. Masih pucat. Sama sekali tak mau mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Aku pasrah.
    “Yasudah.. Mudah-mudahan cepat sembuh ya.. Hanya ini yang bisa aku lakukan... Aku pamit pulang ya...” Aku tak mau berlama-lama. Menunggu ia membisu.
    Ia masih terdiam. Menyembunyikan rahasia di dalam hatinya. Biarlah waktu yang menjawab. Aku pergi. Menghempaskan penat hatiku di udara.
    Tiga hari setelah itu teman-temanku sudah kembali di asrama. Dan mulai tiga hari lalu aku sering memandang langit dari tingkat tertinggi di asrama. Ku pandang luas hamparan biru itu. Ku nikmati kota Surabaya. Namun tetap saja hati ini masih gerimis.
    Bahkan kini gerimis di hatiku berubah deras. Sangat deras. Hingga banjir. Aku tak kuat menahannya. Mendengarkan kabar yang panas. Sangat panas. Bagai petir yang membakar nadi-nadi.
    Ku habisi tembok di depanku. Ku pukuli. Hingga aku tak merasakan sakit pada tanganku. Hanya hambar. Kecuali hati ini. Masih sakit sekali. Gemuruh guntur terus menggebu dalam dada. Aku gila.

    Cinta yang aku tunggu enam tahun untuk ku ungkapkan kini direbut orang. Sahabatku sendiri di asrama telah menjalin cinta dengannya sejak dua bulan lalu. Aku terlambat.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut