• Kelabu



    Kelabu
                Tik-Tak… Tik-Tak… Tik-Tak…
                Begitulah bunyi jarum jam yang terus bergulir kala jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Ada seseorang yang tengah terjaga dari mimpinya. Ia melihat jam di kamarnya lalu mengusap wajahnya. Ia tergopoh-gopoh dari tidurnya.
                “Sialan… Mimpi buruk lagi… Ah… Sulit banget tidur nyenyak…”
                Karena tak kuat menahan kantuk, ia berusaha untuk tidur. Tapi perasaan dan pikirannya yang berkecamuk membuatnya sulit sekali untuk tidur lagi. Ia memutuskan untuk turun dari lantai kamarnya menuju kamar mandi dan dapur. Membasuh wajahnya dengan air dan ia lanjut dengan membikin kopi hangat. Memang kontras sekali apa yang ia lakukan dengan apa yang ia inginkan. Kalau bicara soal kontras semacam itu, sebenarnya memang hidupnya penuh kontradiksi.
                Seperti halnya, ketika ia ingin sekali kuliah di bidang kesenian karena dia punya bakat di situ, eh malah ia terdampar di teknik elektro. Kasihan sekali. Namun itu bukan hal yang utama sebenarnya. Ada semacam luka darah bernanah di hatinya yang ia pendam dan tanggung sendiri.
                “Belum tidur nak?” Suara lembut dari belakang mengejutkannya.
                “Eh Bu… Udah tadi bentar…. Ibu kok udah bangun?” Jawabnya.
                “Hmmmm… Ibu ketiduran tadi… Nunggu Ayahmu katanya tadi ada urusan di rumah temennya tapi sampai sekarang belum pulang-pulang…” Sang Ibu menatapnya dengan mata sayu. Kelihatan raut wajah yang begitu lelah.
                “Sabar bu… Ibu tidur saja dulu… Ibu lelah seharian kerja...” Pintanya.
                “Iya nak… Kamu juga tidur ya…”
                “He’em bu...”
                Sedetik terakhir ia menatap mata Ibunya. Ia dapat mengerti ada semacam aliran listrik yang sama arusnya meski beda voltase yang saling menggetarkan. Ia hanya bisa melanjutkan langkahnya dengan membawa segelas susu menuju kamar.

                KESIANGAN!!!
                Begitulah pekerjaannya akhir-akhir ini, semua karena sulitnya ia tidur malam. Padahal hari ini dia ada jadwal konser menyanyi di acara pernikahan teman SMP-nya.
                “Arrrggghhhhh... Udah Jam 9…” Ia menatap kaget jam dindingnya.
                Secepat kilat ia menuju kamar mandi. Tak berselang sampai lima menit, ia telah selesai. Cepat-cepat juga ia memakai baju dan menuju dapur untuk membuat roti susu. Makanan cepat saji yang jadi handalannya.
                “Eh adek-adek udah pada bangun…” Ia mengusap kepala adik-adiknya yang sedang asyik nonton televisi.
                “Lah kamunya aja yang kesiangan…..” Kakaknya yang hitam manis itu menimpali.
                “Hahahahahaha… Maklum kak, artis… Bangunnya siang…” Ia menjawab.
                “Uuuuuuwww…..” Kakak dan dua adiknya serempak.
                “Hahahahaha… Sudah… Sudah... Aku berangkat dulu ya…”
                Di depan pintu Ibunya sedang berdiri melihat tingkah anak-anaknya. Tepat saat itulah ia segera mencium tangan ibunya dan langsung bergegas dengan sepeda motor ninja-nya. Saat sampai di gerbang rumah. Ia dapati ayahnya baru saja pulang.
                “Sibuk sekali yah…” Sindirnya.
                “Iya nak… Tadi malam banyak urusan bisnis di rumah teman...” Jawab ayahnya dengan muka sumringah.
                “Ohh…” Jawabnya dingin di tengah-tengah suara motor yang sudah siap untuk melaju.
                “Mau kemana nak?” Ayahnya sedikit bertanya.
                “Biasa yah.. Artis…. Berangkat dulu ya….” Ia langsung melajukan motornya dengan cepat.
                Ayahnya terakhir kali menimpalinya dengan senyum sumringah yang tak terlihat olehnya.
                Sampai di tempat ia langsung disambut teman-temannya. Suara meriah penuh lagu-lagu dari soundsystem terdengar menghiasi acara pernikahan. Terlihat dua orang MC tengah berada di depan siap untuk menyambutnya. Rupa-rupanya lagu-lagu itu didendangkan untuk menunggunya yang sedari tadi sudah dinanti-nanti oleh teman-teman dan tamu undangan.
                “Iya langsung saja kita sambut artis kita…  Bagus San Wardana…”
                “Isan!! Isan!!” Teriak bebarapa tamu undangan. Ya, Isan adalah panggilan akrabnya.
    Riuh penonton yang juga teman-temannya sendiri memeriahkan acara pernikahan. Isan dengan tegap langkahnya menuju panggung dan siap dengan mic yang ia pegang. Seketika itu musik dibunyikan dan ia menyanyikan sebuah lagu spesial bahasa inggris. Marry me-nya Bruno mars. Tamu undangan asyik mendengarkan dengan tetap fokus pada hidangan makanan yang tersedia aneka menunya.
    Nampak ada seseorang teman yang melihat Isan dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia lihati Isan terus. Seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Isan. Isan pun merasa curiga. Ia ingin sekali menemui temannya usai lima lagu yang ia nyanyikan selesai. Temannya itupun nampak menunggu di tempat duduk sebelah barat panggung.
    “Rud.. Rudi…” Isan memanggil temannya usai tampil. Rudi menoleh seketika. Ia masih dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
    “Gimana San?” Rudi menyahut.
    “Kamu ada apa dari tadi kok ngelihatin aku?” Isan memulai rasa penasarannya.
    “Gini San……. Soal tadi malam…” Rudi mendekati Isan.
    “Ada apa tadi malem Rud?”
    “Ayahmu ada di rumah ndak?” Suara Rudi memelan.
    “Hmmm… Ndak… Ada apa Rud?” Isan tambah penasarannya.
    Akhirnya Rudi berbisik pada Isan. Ia menceritakan suatu hal yang selama ini juga dicurigai oleh Isan. Cerita Rudi itu memperkuat dugaan yang sudah menggumpal di hati Isan. Dengan raut muka yang berkeringat karena panasnya kota Surabaya, Isan langsung undur diri dari acara dan pulang ke rumah.
    ----------------
                “Ayah mana bu?” Suara Isan masih tersenggal karena nafasnya yang naik turun usai menaiki ninja-nya dengan sekencang kilat.
                “Di dalam San.. Lagi tidur…” Ibu menjawab halus.
                “Oh……” Isan menaruh helm-nya. Seperti ada letupan yang hendak keluar dari mulut Isan.
                “Kenapa nak? Kok wajahnya merah hitam gitu…” Ibu mendekati Isan.
                “Ibu jangan tahu dulu….. Ini urusan Isan sama Ayah…”
                “Ada apa to nak? Jangan marah-marah sama Ayah ya…”
                “Ya…. Lihat nanti saja bu…” Suara Isan penuh letupan.
                Tak disangka, Ayah Isan keluar dari pintu rumah. Ia sudah siap dengan baju rapinya. Wajah yang nampak segar usai mandi dan rambut yang kelimis tertata rapi. Dengan topi cokelat kesukaannya, Ia hendak memakainya dan melangkahkan kaki. Hampir melewati tempat duduk di teras rumah Isan menyambutnya. Ia pun seketika berhenti.
                “Yah.. Mau kemana?” Sejarak satu meter dengan ayahnya ia berujar. Tetap dengan raut muka merah hitam dan mulut yang sudah siap untuk meletup.
                “Ini mau ambil baju-baju di tempat temen Ayah… Persediaan baju di Butik kita udah mulai habis….”
                “Hmm… Beneran yah?” Isan nampak tak percaya.
                “Iya bener… Ada apa nak? Wajahnya kok murung gitu….”
                “Jangan sok mengalihkan gitu yah… Tadi malam Ayah darimana? Jujur….” Isan masih belum padam.
                “Lah kan Ayah sudah bilang.. Kalau tadi malam Ayah ada urusan bisnis sama temennya..”
                “Sampai larut malam??” Isan terus memburu.
                “Iya sampai malam…” Ayahnya-pun ikutan tegang. Ia mencoba mengajak Isan untuk duduk dulu.
                “Isan ndak percaya Yah… Isan sudah lama curiga soal ini… Banyak orang yang sudah beberapa kali ngasih tahu Isan… Ayah yang jujur… Isan ndak percaya Yah….” Letupannya pun tambah banyak. Isan sudah tak bisa menahannya.
                “Kenapa to nak… Kamu santai dulu.. Jangan su’udzon dulu sama Ayah…” Peluh keringat mulai keluar di kening Ayah Isan. Ibunya pun ternyata sedari tadi mematung di teras rumah. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan. Seolah sang Ibu ingi n sekali datang mendekati keduanya, tapi ia masih belum berani.
                “Ah… Ayah jangan bertele-tele… Isan sudah tahu semuanya.. Semua kelakukan gelap Ayah.. Jujur Yah… Isan udah ndak tahan lagi…. Isan sudah tahu ini sejak kelas 3 SMA yah… Kasihan Ibu Yah… Kalau Ayah masih seperti itu terus.. Isan mending berhenti dari kuliah.. Isan udah malas melakukan apa-apa…” Gundukan perasaan marah telah keluar di mulut Isan. Hal yang selama ini ia pendam demi Ibunya.
                Raut muka sang Ayah nampak mengkerut. Sepertinya ia tak bisa menyangkal apa yang telah Isan katakan. Sang Ibu mendekati keduanya. Wajahnya nampak sedih sekali. Terlihat buliran air mata telah membasahi pipinya.
                “Nak… Sudahlah… Biarkan Ayahmu berpikir atas kesalahannya itu…” Sang Ibu mengelus pundak Isan.
                “Lho Ibu sudah tahu?” Isan nampak kasihan dengan Ibunya. Ia berdiri. Melihat raut muka Ibu yang penuh tangis, Ia mengusap buliran air matanya yang masih tersisa. Tak kuasa Isan juga menitikkan air mata yang selama ini pula ia simpan demi Ibunya. Ia tak pernah sama sekali memperlihatkan apa yang menjadi rahasia gila di keluarganya. Ia tak ingin sang Ibu tahu sedikitpun. Tak ingin sama sekali.
                “Ibu sudah tahu… Jauh sebelum kamu tahu nak…” Tak kuasa buliran air mata keluar lagi dari pelupuk mata sang Ibu. Isan-pun tak tahan melihatnya. Isan memeluk ibu dengan dekapannya.
                Tiba-tiba di kaki sang Ibu, ada yang memegangi. Sang suami berlutut di hadapan istrinya. Kemudian dengan suara penuh penyesalan, ia mengakui kesalahannya.
                “Bu… Ayah ndak akan mengulangi lagi.. Ini terakhir kalinya Ayah seperti ini… Maafkan Ayah Bu….”
                Sang Ibu dengan belas kasihannya meminta sang Ayah untuk berdiri. Ia memaafkan kesalahan suaminya itu. Ia juga mengatakan penuh harap agar apa yang menjadi masa lalunya jangan pernah diulangi lagi. Isan menyaksikan itu semua. Isan nampak sedikit lega setelah sang Ayah mau mengakui kesalahannya di depan Ibu.
    --------------------
                Keluarga Wardana menjalani hari seperti biasanya. Ibu yang selalu menyiapkan kebutuhan keluarga. Ayah yang bekerja dengan usaha butik di samping rumahnya, yang memang strategis sekali karena rumahnya dekat dengan keramaian kota dan berada di pinggir jalan raya. Kakak Isan juga masih sibuk dengan bisnis celana jeans yang ia rintis usai lulus kuliah. Adik-adiknya menjalani sekolah SMP seperti biasanya. Dan Isan seperti biasanya pula menggunakan motor ninja-nya untuk berangkat ke kampus ITS menjalani kuliah yang meskipun di awal tak begitu ia sukai.
                Semuanya berjalan lebih baik dari sebelumnya. Keluarga itu lebih cair. Memang suasana itu yang Isan nanti-nantikan karena selama ini keluarganya terasa beku akibat jalan hidup sang Ayah dengan sisi gelap yang tak ia sukai. Ia bersyukur sekali sang Ayah mau bertobat dan tak mengulangi kesalahannya itu. Meskipun begitu Isan terus coba untuk memantau sang Ayah. Ia terus lihati gerak-gerik sang Ayah agar kejadian yang menyakitkan sang Ibu dan dirinya tak terulangi lagi.
                Suasana pagi di depan rumah Isan nampak riuh lalu lalang motor. Pantas saja, Kota Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia. Berjuta orang dengan berbagai aktifitasnya nampak begitu asyik untuk dicermati. Ada pegawai, ada pedagang, ada pelajar dan tentu masih banyak lagi. Adik-adik Isan sudah berangkat sekolah. Kakak Isan juga sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ayah nampak bersiap-siap. Sedang Ibu Isan sedang membersihkan piring-piring setelah makan pagi.
                Isan yang masih santai-santai saja karena kuliah masuk siang, tengah duduk di depan ruang televisi. Ada sebuah SMS masuk tapi bukan dari telepon genggamnya. Ia dapati sebuah handphone di meja sebelahnya. Tak sengaja ia mengambilnya. Terlihat nama terang di layar HP tersebut.
                Dari: Cantika (085731225678)
    Sayaaaaaaaaaang… Lagi dimana? Sudah siap belum? Udah tak tunggu lho..
                Begitulah tulisan yang ia baca saat ia tak sengaja membukanya. Tak berpikir lama Isan sudah bisa menyimpulkan. Luka yang hendak mongering kini basah lagi. Isan sudah tahu pasti apa yang telah jadi permainan ‘petak umpet’ ayahnya. Ternyata taubatan sang Ayah adalah kebohongan besar. Ini semua tak bisa dibiarkan. Isan kemudian berlari dan membanting HP di depan ayahnya.
                “Sialaaaann!!!”
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut