Semedi, aku dibuat pusing kepala.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
*Puisi ditulis di atas sajadah yang dilipat sebagai alas duduk, diterangi lampu belajar nan sukar. Aku masih menguatkan mata.


0 komentar:
Posting Komentar