• Titik Putih Itu


    bacalah.... nantikan kejutan di dalamnya...

    Titik Putih Itu

    “Kring..Kring…” Suara sepeda pak yai begitu jelas terdengar  di telinga Neng Cisi. Sekitar beberapa detik lagi pak yai pasti akan sampai di Ndalem. Neng Cisi bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan kopi kesukaan pak yai. Kopi kapal kuda. Itu merek kopi ternama di desanya. Ibu nyai sudah sekian lama sedo. Jadi neng Cisi selain sebagai anak, dia juga harus berlaku seperti ibunya. Mau mengabdikan diri untuk Abahnya. Abah Huda. Itu panggilan pak yai. Beliau adalah pengsuh pondok Darul Kalam di Jogja.
                “Assalamualaikum..” Terdengar suara abah Huda jelas dari pintu depan.            “Wa’alaikumsalam..” Sahut Neng Cisi. Neng Cisi masih asyik mengaduk kopi untuk abahnya.
                Abah Huda duduk di kursi goyang depan rumah. Beliau beristiharat sejenak sekalian menghempaskan keringat yang diperolehnya saat bersepeda. Neng Cisi datang membawakan secangkir kopi nikmat untuk abahnya.
                “Bah.. Ini kopinya.. Monggo diunjuk
                “Iyo Nduk..” Neng Cisi bergegas meninggalkan abah untuk masuk ke rumah.
                Tiba-tiba abah Huda memanggil putrinya, “Neng.. mau kemana? Kesini dulu abah mau bicara sama kamu..”
                “Oh iya bah.. Enten nopo?”
                “Ini nduk… Umurmu sekarang berapa?” Pertanyaan abah Huda yang tidak seperti biasanya.
                “Sampun duapuluh satu tahun bah..”
                Abah Huda meminum kopi buatan putrinya itu, kemudian ia mengeluarkan pertanyaan yang sangat menyentakkan hati Neng Cisi. “Kamu ndak pengen mbojo to nduk..
                Neng Cisi terdiam. Dia masih bingung menjawab pertanyaan abahnya. Dia anak kedua dari ketiga bersaudara. Kakaknya sudah menikah dengan bunga desa di desanya. Dan adiknya yang selisih dua tahun dengannya juga sudah menikah. Ia dipinang pangeran dari Solo. Neng Cisi ingin sekali menikah. Tapi dia tidak ingin dengan cara penjodohan. Ia ingin secara alami mendapatkan pasangan. Seperti kakak dan adiknya. Tapi dia juga tidak mau menolak abahnya jika dia dijodohkan. Dia anak yang penurut dari seluruh putra putri abah Huda. Apalagi setelah ibunya meninggal. Neng Cisi sudah berjanji pada ibunya bahwa akan menjaga abahnya dan menyenangkan hati abahnya.
                “Gimana Nduk? Abah ini baru saja ketemu dengan Kiyai Bejo di Gunung Kidul. Kiyai Bejo ingin sekali menjodohkan putranya yang lulus dari Yaman denganmu nduk..”
                Neng Cisi mau tidak mau, dia harus menjawab pertanyaan dari abahnya. “Boleh bah… Tapi dengan satu syarat..”
                “Apa nduk?”
                Neng Cisi berbisik pada abahnya di jarak setengah meter.
                “Subhanallah…. Bagus… Bagus nduk.. Kalau begitu besok pagi juga abah akan menyuruh Selamet untuk mengumumkannya.”
    >>>>>> 
                Kabar penjodohan neng Cisi dengan putra Kiyai Bejo sudah menyebar di seluruh Pesantren. Neng Cisi memang sengaja bilang abahnya agar memberitahukan kabar itu. Ada rahasia tersendiri yang disimpan neng Cisi. Bukan neng Cisi ingin pamer soal berita itu. Tetapi neng Cisi mau melakukan kompetisi yang fair untuk memilih siapa pendamping hidup yang pantas untuk dirinya. Ya, dengan adanya kabar itu otomatis semua ustadz maupun santri putra yang menaruh hati pada neng Cisi akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di mata neng Cisi. Neng Cisi itu bagai primadona pesantren. Wajahnya, alisnya, bibirnya, pipinya, bahkan sekujur tubuhnya begitu indah. Tak ada tandingannya di Pesantren. Banyak sekali yang menginginkan dirinya untuk dijadikan istri. Termasuk Casandi. Yang akrab dipanggil Casa. Dia begitu terpukul saat mendengar kabar burung itu. Casa bersahabat dekat dengan seorang abdi ndalem. Siapa lagi kalau bukan Selamet. Casa ingin sekali bertanya pada Selamet.
                “Met.. Apa benar kabar itu?” Tanya Casa sambil menyandarkan badan di tembok kamar.
                “Benar Cas… Apa kamu tidak ada usaha untuk memperoleh neng Cisi?”
                “Nah itu Met.. Aku tidak tahu caranya…” Casa berbicara sambil merogoh-rogoh telinganya dengan jari telunjuk. Kotoran ditelinganya begitu tebal. Ia memang ganteng tapi jorok. Permasalahan yang seringkali terjadi pada Santri di Darul Kalam.
                “Caranya gampang Cas…”
                “Apa Met?” Casa penasaran.
                “Aku mendengar neng Cisi berujar katanya barang siapa bisa membuat seluruh santri di Darul Kalam bisa sehat-sehat, bersih-bersih dan tidak gatal-gatal lagi maka orang itu akan langsung dijadikan suami neng Cisi. Persyaratan itu ditujukan untuk siapapun. Tidak terkecuali putra Kiyai Bejo yang ingin dijodohkan dengan neng Cisi.”
                Casa membersihkan tangannya yang masih tertempel sedikit kotoran dari telinganya. Kemudian dia berpikir tentang syarat yang diajukan neng Cisi. Persyaratan itu tidaklah mudah baginya. Dirinya saja masih jorok bagaimana bisa membuat seluruh santri lebih bersih. Malam itu ditemani lampu dan serangga malam, Casa mencari cara untuk melaksanakan syarat dari neng Cisi.
    >>>>>> 
                Neng Cisi tengah berada di dalam kamar yang begitu harum baunya. Warna hijau memenuhi ruang kamar. Neng Cisi senyum-senyum sendiri. Ia telah berhasil menyebarkan berita dan pengumuman yang diinginkannya. Memang dia sengaja sekali untuk membuat persyaratan itu. Agar semua santri di Darul Kalam tidak Jorok. Neng Cisi sangatlah tidak suka melihat santri yang gudiken. Katanya itu tanda atau cap sebagai santri. Bahkan ada yang mengatakan itu setempel keberkahan. Tapi bagi neng Cisi itu tidak. Hanyalah omong kosong. Gatal-gatal sedikit saja menyiksa. Kenapa para santri bisa begitu menikmati sensasi gatal yang menyengat tubuhnya begitu lama. Neng Cisi berharap sekali caranya itu sukses. Ada pangeran yang bisa menangani lingkungan pondok yang semakin suram.
                “Bagaimana dengan Casa ya… Santri ganteng itu…” Dalam benak neng Cisi. Diam-diam neng cisi memang memperhatikan Casa. Dia juga memendam rasa pada santri itu. Tetapi neng Cisi sedikit ilfeel ketika tahu kalau Casa tidak ada bedanya dengan santri lainnya. Neng Cisi sangat berharap Casa bisa berubah dengan adanya persyaratan ini. Dia tidak mau dijodohkan dengan putra Kiyai Bejo. Untuk itu Casa harus berhasil. Kalau tidak, bisajadi neng Cisi akan menikah dengan putra Kiyai Bejo.
                “Nduk… Belum tidur?” Abah Huda mendatangi neng Cisi yang tengah duduk di kamar.
                “Belum Bah.. Enten nopo?”
                “Ini abah baru saja dapat kabar dari Kiyai Bejo.. Katanya Rais putranya yang di Yaman akan segera datang. Bagaimana jadinya nduk…?
                “Ya bah.. Persyaratan dari kula tetap harus terpenuhi bah… Kalau Rais juga tidak bisa memenuhi ya belum bisa bah… Saya dengar kabarnya sudah tersebar nggeh bah?”
                “Ya Selamet sudah memberitahukan pada para ustadz maupun santri putra tentang persyaratan itu. Kata Selamet tanggapannya cukup baik. Besok kita lihat saja jadinya.”
                “Nggeh Bah….”
    Dalam hati neng Cisi terus berharap agar Casalah yang berhasil.
    >>>>>>>> 
                Pagi yang menusukkan hawa dingin, Casa mandi. Ia membersihkan tubuhnya sebersih mungkin. Dia juga beli cutenbath untuk membersihlkan telinganya. Dia tampil begitu ganteng hari ini. Karena hari ini dia akan menemui abah Huda dan neng Cisi. Beberapa Ustadz juga sudah siap untuk menghadap abah Huda. Tidak ada satupun santri yang berani kecuali Casa. Ia sudah lama mengagumi neng Cisi. Tidak akan Casa lewatkan kesempatannya untuk mendapatan bidadari itu.
                Casa dan para Ustadz sedang menunggu di depan pintu Ndalem. Ustadz Bahar giliran yang pertama. Ustadz yang juga mengajar Casa ini tidak kalah gagahnya dengan Casa. Mungkin diantara seluruh Ustadz yang ingin menikahi neng Cisi, Ustadz Bahar adalah saingan tersulit. Casa mendengar percakapan Ustadz Bahar dengan Abah Huda. Casa mencoba mengintip disela-sela jendela yang tidak tertutup Korden. Ia nampak jelas melihat neng Cisi duduk disamping abah Huda.
                “Ustadz… Bagaimana caranya agar seluruh santri di Darul Kalam bisa bersih dan sehat?” Tanya abah Huda diiringi senyum neng Cisi. Casa merasa cemburu. Karena senyum itu jelas tertuju pada Ustadz Bahar.
                “Kalau menurut saya harus ada roan setiap hari bah..”
                “Itu saja?”
                “Ada lagi setiap santri yang kukunya panjang harus dipotong. Kalau tidak akan dapat sanksi.”
                “Sanksi apa?”
                “Tidak boleh mengaji.”
                Hah? Dalam benak Casa, seperti peraturan anak TK aja kukunya harus dipotong, terus mana mungkin setiap hari roan, ada-ada saja Ustadz ini.
                Casa mendengar percakapan abah Huda dengan Ustadz Bahar.
                “Terus kapan kamu akan merealisasikannya?”
                “Insya Allah secepatnya bah.. Dalam kurun waktu seminggu saya yakin santri di Darul Kalam akan bersih-bersih” Ungkap Ustadz Bahar dengan begitu yakinnya.
                “Ya sudah… Kalau begitu saya tunggu buktinya..”
                “Enggeh bah..”
                Ustadz Bahar meninggalkan ruang tamu diiringi senyum neng Cisi. Lagi-lagi Casa merasakan cemburu begitu kuat. Tapi Casa hanyalah santri biasa yang tak mampu berbuat apa-apa.
                Setelah Ustadz Bahar kemudian bergiliran lima Ustadz yang menunggu sedari tadi mulai masuk. Casa juga mengintip dan mendengarkan percakapan mereka semua. Semuanya teknis. Mereka menawarkan teknis yang tidak jauh beda dengan Ustadz Bahar. Dan rata-rata seminggu mereka akan membuktikan itu. Bagi Casa itu omongkosong. Dia sudah memikirkan cara itu bermalam-malam tapi sepertinya sulit sekali dengan melihat perilaku santri yang sudah jorok kuadrat.
                Kemudian giliran Casa masuk. Ia sunggingkan senyuman terindah sepanjang hidupnya untuk neng Cisi. Ia memasukkan tangannya di saku jas. Ada sesuatu yang ia bawa.
                “Assalamualaikum…” Casa mencium tangan abah Huda.
                “Waalaikumsalam…” Abah Huda dan neng Cisi bebarengan menjawab.
                “Bagaimana Casa kamu sudah siap? Sepertinya kamu yang paling muda” Abah Huda tersenyum melihat Casa. Begitu juga neng Cisi. Begitu bahagianya hati Casa melihat bidadari itu tersenyum.
                “Insya Allah siap bah…”
                “Kalau begitu apa yang bisa kamu buktikan?” Tanya abah Huda.
                Casa tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan tangannya yang sedari tadi masuk dalam saku jas. Bersamaan itu keluarlah kotak berukuran sedang dari sakunya itu. terbungkus kertas coklat. Nampak seperti kado. Dengan mantap Casa memberikan kotak itu pada neng Cisi, “Ini neng.. Silahkan diambil..”
                “Apa ini Cas?” Tanya abah Huda penasaran.
                “Nanti dibuka seminggu lagi bah.. Saat yang istimewa… Tepat saat neng Cisi ulangtahun…”
                Neng Cisi keheranan. Sejak kapan Casa tahu kalau tanggal duapuluh satu januari adalah hari ulangtahunnya. Tapi neng Cisi tidak memusingkan itu. Ia lebih tertarik untuk mengetahui isi kotak yang diberikan Casa. Ia akan menunggu seminggu lagi. Bertepatan juga dengan pembuktian para Ustadz. Dia ingin tahu apakah pembuktian Casa lebih baik daripada para Ustadz atau tidak.
    >>>>>>> 
                Seluruh Ustadz gagal membuktikan. Teori Casa benar. Dia memang cerdas. Bisa memikirkan sejauh itu. Tapi sebenarnya itu bukan karena cerdas juga tapi karena Casa melihat santri lain seperti dirinya. Yang untuk mengubah diri harus ada tekanan yang besar. Seperti yang ia lakukan. Ia berubah karena ada tekanan neng Cisi hendak dijodohkan. Casa berharap neng Cisi segera membuka kadonya.
                Di dalam kamar yang selalu harum itu, neng Cisi sudah memegang kado dari Casa. Ia ingin segera membukanya. Perlahan-lahan ia sobek kertas pembungkusnya. Satu per satu. Namun hingga beberapa menit hanya kertas dan kertas. Belum ia temui isi dari kado itu. Lima menit berselang, ia sudah sampai pada kotak terkecil yang dibalut dengan kertas berwarna coklat. Disitu ada gulungan kertas putih. Kemudian neng Cisi segera mengambilnya. Ia buka kertas itu.
                Neng bertahun-tahun saya mencintai kamu.. Dan kini saatnya untuk saya membuktikan… Bahwa saya akan bisa mengubah santri di pesantren ini semakin bersih dan sehat.. Dan juga mengubah neng… Berhenti baca dan coba buka kotak kecil itu.. Kemudian berkacalah…
                Neng Cisi sudah siap di depan kaca. Ia mebuka balutan kertas coklat itu. Terlihat kotak persegi panjang berwarna oranye. Ia putar-putar kotak itu. Dan DENGGG!!!! Ternyata Kalpanak isinya. Ya, itu adalah obat untuk menghilangkan panu. Neng Cisi terkejut bahkan tersentak dengan hadiah pemberian Casa. Kemudian ia melanjutkan perintah Casa untuk berkaca. Ia meneliti wajahnya. Tiba-tiba ia melihat ada titik putih di pipinya. Itu adalah panu yang sekian lama diamati Casa. Neng Cisi sudah terlalu lama membiarkannya. Dia tidak menyadari akan titik kecil yang memalukan itu. Walaupun neng Cisi cantik tapi ternyata juga jorok, meski tak sejorok Casa dan santri lainnya.
                Kemudian neng Cisi lanjutkan membaca…
                Untuk mengubah seluruh santri di pesantren ini agar bersih dan sehat maka diri kita juga harus bersih dan sehat pula…
                Dalam benak neng Cisi, Hah??????? Casaaaaaa…. Segera pinang aku…

    By : Saendahe
  • 2 komentar:

    Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut