• Santri dalam Kesederhanaan

    "Santri.."
    "What is it?" Temanku dari luar negeri merasa asing dengan kalimat itu.
    "Santri is student of spirituality..." Jawabku.
    “So, you are Santri?”
    “of course... I felt wondrous when I was in IBS. I used to sleep together with 70 friends... It was sweet moment...” Aku mengingat saat-saat di Ponpes Al asy’ariyyah dulu.
    “What is IBS?” Dia penuh ‘kepo’ menanyaiku.
    “So I will show you my memorable photographs” ku tunjukkan padanya foto-foto saat aku ‘nyantri’
    Lalu banyak ia tanyakan tentang masa-masa saat aku nyantri itu. Dengan menunjukkan raut muka penuh keheranan dan kadang-kadang ia merasa takjub, ia ingin sekali mendengar lebih tentang ceritaku. Saat ku sampaikan padanya tentang kenangan makan bersama dengan teman-teman santriku dimana kami hanya menggunakan tangan dan alas makanan berupa daun pisang, kertas minyak atau nampan, ia betul-betul ingin tahu bagaimana rasanya makan seperti itu. Dia saja seperti itu, apalagi aku, sangat ingin mengulangi momen indah itu.
    Santri, sebetulnya bukanlah kata yang istimewa atau penuh kebanggaan, bagiku santri adalah kesederhanaan. Dari semua yang aku lakukan selama menjadi santri, seluruhnya adalah kesederhanaan. Kita, santri, memang diajarkan untuk tetap menjadi sederhana mau bagaimanapun keadaan kita nantinya. Betapa indahnya hidup ini, jika kita mampu memaknainya dengan penuh kesederhanaan.
    Untuk menjadi sederhana, bukanlah hal yang mudah di zaman penuh dengan kemewahan ini. ‘To be simple is not easy’, kita butuh menjadikannya sebagai ‘habit’. Mari kita pahami makna kata ‘sederhana’ ini. Sederhana memiliki banyak pemahaman tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Terkadang kita cenderung memandang ‘sederhana’ dengan kaca mata kita masing-masing, sehingga kita lupa bahwa kondisi yang berbeda tentu akan menjadi berbeda pula sikap sederhana itu.
    Sebagai contoh, saya punya teman mahasiswa, dia anak orang yang kaya di desanya. Setiap bulan kirimannya berkisar 1.500.000 hingga 2.000.000 diluar biaya kost dan kuliah. Jadi uang itu full untuk kebutuhan makan dan lain-lain. Dengan uang cukup banyak itu, tentu tidak susah baginya untuk beberapa kali makan di KFC atau McD yang mungkin sekali makan sekitar 30.000, bahkan setiap hari makan di McD saja dia lebih dari cukup, uangnya akan tetap sisa. Tetapi teman saya yang santri ini sungguh berbeda, dia justru suka sekali makan di warteg atau warung pinggiran bersama saya, bahkan beberapa kali mentraktir saya. Hampir tiap bulan ia ikut program sedekah di salah satu organisasi yang nantinya akan disumbangkan untuk anak-anak yang tidak mampu. Maka saya menilai dia sebagai orang yang sederhana. Lebih sederhana dibanding saya yang kirimannya lebih sedikit tapi berani makan enak di warteg tiap hari.wkwk
    Contoh selanjutnya, saya ambil dari teman karib atau dalam kata lain sahabat kental saya di pesantren. Dia sudah bekerja di salah satu sekolahan, tetapi dia masih bujang dan memiliki tiga adik yang masih sekolah di taraf SD, SMP dan SMA. Gajinya memang tidak banyak, sekitar 500.000 setiap bulan, namun ditambah dengan uang les mungkin berkisar 900.000 hingga 1.000.000. Hampir tiap hari ia berpuasa, bahkan tak jarang ia main ke rumah salah satu warga yang memang dekat dengan dia untuk ‘numpang’ berbuka. Sungguh tak lazim bagi saya melakukan hal seperti itu, karena selain memang saya jarang berpuasa, pun malu sekali rasanya main ke rumah warga dan numpang untuk makan. Namun sahabat saya itu tanpa rasa malu yang tinggi biasa melakukan hal tersebut. Pada suatu kesempatan, setelah mengaji habis subuh ku tanyakan hal itu padanya, karena saya tidak suka memendam rasa curiga terlalu lama. Sungguh jawaban dia diluar dugaan saya, bahkan saya merasa sangat terharu dengan perjuangannya. Ia tiap bulan menyisihkan hampir seluruh pendapatannya itu untuk diberikan kepada orang tuanya yang sudah tua dan tidak kuat bekerja lebih. Uang tersebut untuk kebutuhan sekolah adik-adiknya. Maka teman saya ini sangat berhasil menyampaikan sebuah pesan yang sangat berharga bagi saya, yakni hidup sederhana.
    Mungkin jika kita mau membuka mata kita lebih lebar di sekitar kita, kita akan menemukan banyak sekali pelajaran tentang hidup sederhana. Sebagai seorang santri baik yang masih berada di Pondok ataupun sudah melanjutkan hidup di masyarakat, pesan hidup sederhana sesuai dengan porsinya ini perlu kita jadikan misi untuk melawan kehidupan masyarakat kita yang semakin hari semakin merisaukan. Tak jarang hanya ingin mendapatkan sesuatu, banyak orang melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya itu. Segalanya menjadi seolah-olah halal padahal sebenarnya haram. Kegilaan ini terjadi bukan hanya karena ada kesempatan, tetapi kurangnya rasa saling mengingatkan dan kepedulian sesama kita.
    Don’t be ignorant, I don’t like it.
    Terakhir, ku sampaikan salam ta’dhim dan sebuah kiriman fatihah kedapa guru-guru saya, especially KH. Muntaha Al hafidz, KH. Mustahal Asy’ariy, KH. Ahmad Faqih Muntaha, KH. Miftakhul Akhyar, KH. Abdul Ghoni, KH. Murtadlo, tsumma masyayihina wa masyayihi masyayihina, dan semua guru-guru saya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Bibarakatil faatihah. :-)


    Irfan


  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut