ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • Jika Uang telah Jadi Pahlawan

    Jika Uang telah Jadi Pahlawan


    Gambar diambil dari: liputan6.com


    Jika uang telah jadi pahlawan
    Maka orang-orang akan bebas melempar kotoran
    Sesukanya, hingga tak ada yang melarang

    Jika uang telah jadi pahlawan,
    Konglomeratpun akan menyembahnya
    Meski uang telah dikantongi sepuasnya

    Jika uang telah jadi pahlawan,
    Biduan-biduan tak lagi bergoyang
    Karena uanglah penghiburnya

    Semakin banyak orang yang akan mengatakan:
    Aku mencintaimu karena uang
    Karena hanya denganmu nafsuku menjadi riang

    Aku mencintaimu karena uang,
    Lembar demi lembar hanyalah recehan,
    Aku membutuhkan seisi rekeningnya

    Jika uang telah menguasai dunia di dalam hati dan otak kita
    Maka tinggal kita menghitung cinta, kiamatpun akan tiba
    Tepat di dasar nalar yang paling dusta.

    By: Irfan Hilmi
  • Perempuan adalah Cuaca

    Perempuan adalah Cuaca

    "Aku ingin menjadikannya sederhana, seperti kacang kepada tepung yang menjadikannya kacang atom. Aku akan menjadikannya sederhana, seperti kopi dengan susu yang menjadikannya kental, eh... malah berpuisi hehehe"


    Gambar diambil dari: http://www.prfmnews.com/


    Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kata cuaca untuk perempuan. Namun saya sepakat bahwa perempuan adalah cuaca. Sebentar kemarau, sebentar hujan, sebentar lagi mendung, sebentar lagi cerah. Kadang-kadang mau tak mau kita sebagai lelaki berada pada cuaca tak tentu itu. Kadang kita diajak bahagia untuk bersama-sama menikmati hujan, kadang pula di tengah-tengah hujan kita harus diajak mengerti dan memahami arti menangis bersama.

    Perempuan adalah cuaca, dan laki-laki adalah apa? Terkadang sifat lelaki yang tidak peka terhadap cuacanya perempuan menjadikannya terasa egois karena tidak memahami gejala-gejala kondisi yang terjadi pada perempuan. Paradoks-paradoks akan menghiasi pada hubungan tersebut, seperti:
    "Aku benci kamu tapi aku rindu kamu" atau
    "Aku males menelpon kamu tapi aku ingin mendengar suaramu..."

    Entah sampai zaman apa paradoks itu akan terus muncul, jika kita sendiri tak mampu memahaminya. Lebih tepatnya saling memahami. Oleh karenanya, aku ingin menjadikannya sederhana, seperti kacang kepada tepung yang menjadikannya kacang atom. Aku akan menjadikannya sederhana, seperti kopi dengan susu yang menjadikannya kental, eh... malah berpuisi hehe.

    Mungkin ketika perempuan sedang bercuaca hujan kita harus menjadi bendungan yang menampungnya, ketika dia sedang kemarau maka jadilah Air Condition (AC), ketika dia sedang mendung maka sediakan payung, ketika dia sedang dipenuhi pelangi (cerah) ajaklah dia tertawa bersama, ketika dia sedang berkabut maka terangilah jalannya, dan lain sebagainya

    Lah terus, laki-laki yang harus terus memahaminya dong? kan harusnya saling memahami?

    Benar juga pertanyaanmu, cuma memang itulah tugasmu sebagai lelaki yang mengikuti peribahasa: laki-laki salah, dan perempuan selalu benar.

    Peribahasa macam apa tu?

    Haahaha peribahasa buat kita

    Tapi sejujurnya, pengibaratan saya diatas adalah dalam ranah saling memahami sekaligus saling memerlukan. Artinya ketika kita jadi bendungan/waduk, kita butuh air, AC juga tidak dibutuhkan kalau musimnya dingin, dan kita juga tak butuh payung kalau tidak ada hujan. Nikmatilah perubahan suasana dan cuaca yang ada dengan mempersiapkan system immune yang kuat, yang peka dan tahan dalam setiap kondisi. Begitulah lelaki, diciptakan untuk mengayomi. Sebagai perempuan yang berubah-rubah cuaca itu harusnya juga memahami bahwa tidak setiap cuacanya mampu dihadapi lelaki, karena system immune yang terkuat sekalipun akan bisa jatuh sakit jika ada musim pancaroba yang tiba-tiba. Disitulah fungsi komunikasi sebagai penghubung perasaan dan pikiran diantara laki-laki dan perempuan. Komunikasi adalah solusinya. 

    Irfan red
  • Santri dalam Kesederhanaan

    Santri dalam Kesederhanaan

    "Santri.."
    "What is it?" Temanku dari luar negeri merasa asing dengan kalimat itu.
    "Santri is student of spirituality..." Jawabku.
    “So, you are Santri?”
    “of course... I felt wondrous when I was in IBS. I used to sleep together with 70 friends... It was sweet moment...” Aku mengingat saat-saat di Ponpes Al asy’ariyyah dulu.
    “What is IBS?” Dia penuh ‘kepo’ menanyaiku.
    “So I will show you my memorable photographs” ku tunjukkan padanya foto-foto saat aku ‘nyantri’
    Lalu banyak ia tanyakan tentang masa-masa saat aku nyantri itu. Dengan menunjukkan raut muka penuh keheranan dan kadang-kadang ia merasa takjub, ia ingin sekali mendengar lebih tentang ceritaku. Saat ku sampaikan padanya tentang kenangan makan bersama dengan teman-teman santriku dimana kami hanya menggunakan tangan dan alas makanan berupa daun pisang, kertas minyak atau nampan, ia betul-betul ingin tahu bagaimana rasanya makan seperti itu. Dia saja seperti itu, apalagi aku, sangat ingin mengulangi momen indah itu.
    Santri, sebetulnya bukanlah kata yang istimewa atau penuh kebanggaan, bagiku santri adalah kesederhanaan. Dari semua yang aku lakukan selama menjadi santri, seluruhnya adalah kesederhanaan. Kita, santri, memang diajarkan untuk tetap menjadi sederhana mau bagaimanapun keadaan kita nantinya. Betapa indahnya hidup ini, jika kita mampu memaknainya dengan penuh kesederhanaan.
    Untuk menjadi sederhana, bukanlah hal yang mudah di zaman penuh dengan kemewahan ini. ‘To be simple is not easy’, kita butuh menjadikannya sebagai ‘habit’. Mari kita pahami makna kata ‘sederhana’ ini. Sederhana memiliki banyak pemahaman tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Terkadang kita cenderung memandang ‘sederhana’ dengan kaca mata kita masing-masing, sehingga kita lupa bahwa kondisi yang berbeda tentu akan menjadi berbeda pula sikap sederhana itu.
    Sebagai contoh, saya punya teman mahasiswa, dia anak orang yang kaya di desanya. Setiap bulan kirimannya berkisar 1.500.000 hingga 2.000.000 diluar biaya kost dan kuliah. Jadi uang itu full untuk kebutuhan makan dan lain-lain. Dengan uang cukup banyak itu, tentu tidak susah baginya untuk beberapa kali makan di KFC atau McD yang mungkin sekali makan sekitar 30.000, bahkan setiap hari makan di McD saja dia lebih dari cukup, uangnya akan tetap sisa. Tetapi teman saya yang santri ini sungguh berbeda, dia justru suka sekali makan di warteg atau warung pinggiran bersama saya, bahkan beberapa kali mentraktir saya. Hampir tiap bulan ia ikut program sedekah di salah satu organisasi yang nantinya akan disumbangkan untuk anak-anak yang tidak mampu. Maka saya menilai dia sebagai orang yang sederhana. Lebih sederhana dibanding saya yang kirimannya lebih sedikit tapi berani makan enak di warteg tiap hari.wkwk
    Contoh selanjutnya, saya ambil dari teman karib atau dalam kata lain sahabat kental saya di pesantren. Dia sudah bekerja di salah satu sekolahan, tetapi dia masih bujang dan memiliki tiga adik yang masih sekolah di taraf SD, SMP dan SMA. Gajinya memang tidak banyak, sekitar 500.000 setiap bulan, namun ditambah dengan uang les mungkin berkisar 900.000 hingga 1.000.000. Hampir tiap hari ia berpuasa, bahkan tak jarang ia main ke rumah salah satu warga yang memang dekat dengan dia untuk ‘numpang’ berbuka. Sungguh tak lazim bagi saya melakukan hal seperti itu, karena selain memang saya jarang berpuasa, pun malu sekali rasanya main ke rumah warga dan numpang untuk makan. Namun sahabat saya itu tanpa rasa malu yang tinggi biasa melakukan hal tersebut. Pada suatu kesempatan, setelah mengaji habis subuh ku tanyakan hal itu padanya, karena saya tidak suka memendam rasa curiga terlalu lama. Sungguh jawaban dia diluar dugaan saya, bahkan saya merasa sangat terharu dengan perjuangannya. Ia tiap bulan menyisihkan hampir seluruh pendapatannya itu untuk diberikan kepada orang tuanya yang sudah tua dan tidak kuat bekerja lebih. Uang tersebut untuk kebutuhan sekolah adik-adiknya. Maka teman saya ini sangat berhasil menyampaikan sebuah pesan yang sangat berharga bagi saya, yakni hidup sederhana.
    Mungkin jika kita mau membuka mata kita lebih lebar di sekitar kita, kita akan menemukan banyak sekali pelajaran tentang hidup sederhana. Sebagai seorang santri baik yang masih berada di Pondok ataupun sudah melanjutkan hidup di masyarakat, pesan hidup sederhana sesuai dengan porsinya ini perlu kita jadikan misi untuk melawan kehidupan masyarakat kita yang semakin hari semakin merisaukan. Tak jarang hanya ingin mendapatkan sesuatu, banyak orang melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya itu. Segalanya menjadi seolah-olah halal padahal sebenarnya haram. Kegilaan ini terjadi bukan hanya karena ada kesempatan, tetapi kurangnya rasa saling mengingatkan dan kepedulian sesama kita.
    Don’t be ignorant, I don’t like it.
    Terakhir, ku sampaikan salam ta’dhim dan sebuah kiriman fatihah kedapa guru-guru saya, especially KH. Muntaha Al hafidz, KH. Mustahal Asy’ariy, KH. Ahmad Faqih Muntaha, KH. Miftakhul Akhyar, KH. Abdul Ghoni, KH. Murtadlo, tsumma masyayihina wa masyayihi masyayihina, dan semua guru-guru saya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Bibarakatil faatihah. :-)


    Irfan


  • Guessing Wrong

    Guessing Wrong



    Last Friday, Mrs. Lia told me that “Irfan, you gonna meet a guy from Netherland, the author of a book entitled Pengetahuan Biologi Laut di Daerah Batuley”. At that time I rather doubted about it because my work had not finished.
    “No… You will meet him at Sunday”
    “Oh, I guess it right now…”
    She explained that he wanted to buy 25 books from Pustaka Obor. He will arrive in Sukarno Hatta Airport, Jakarta at 01.10 PM and I should be ready at that time. I asked Mrs. Lia, “His name?”
    “Ross Gordon…”
    He researched many years about marine biology in Batuley, one of islands in Moluccas. He compiled his data about the sea organisms around of Batuley in one book, like encyclopedia. Its book contains many kinds of fish, shell, coral reef, squid, marine worm, octopus, seaweed, sea urchin, crab, shrimp, sea cucumber, and also it describes about fishing equipments. Actually, he didn’t work alone, he had a partner, his name was Sonny A. Djonler. I think there are a few researchers who want to research carefully every type in a variety of organisms in the Sea. The truth is that Indonesia is a wonderful place with many interesting things such as the sea organisms. Moreover my country has thousands of islands, there are many natural resources that saved in the seas, beaches, mountains and other’s places. For me, Indonesia is like a heaven. However, Indonesian people don’t make use of it or concern about it as it should be deserved, many researches are not from us, but they come from aboard, like Netherland, German, France, and others. It is terrible, I think, we don’t know more about it due to lack of knowledge. When would we change?
    In short,
    I looked at my calendar, 09 October 2016, so I rushed to finish my activity and preparing to meet Ross Gordon. My colleague, Waluyo, drove the motor cycle and brought me at DAMRI (one of transportation to Airport). I arrived at the Airport at 12.00 PM, and waited for him.
    I got a short massage from him at 01.10 AM, “Just waiting for luggage now…” I replied it, “I am in Gate 1, sitting near Gateway.” But after several minutes, I hadn’t seen him. So, I tried searching on internet about Ross Gordon, the name is like woman, and the Google showed many woman photos. Actually, I guessed like that. I looked an old woman, I moved closely to her, “Excuse me, are you Mrs. Ross Gordon” She just said, “No…” I felt so shy, “Sorry madam…”
    I sent SMS to him again, “Please tell me, where are you” and not long after that, my smart phone rang. I accepted it.
    “Hello Irfan… I am waiting outside the terminal now by the smoking area”
    And finally, I saw him.
    “Okey Sir, I see you…”
    Eventually, Ross Gordon was good-looking and still young. I greeted him with big smile and it was a good chance to practice my English skill. I talked with him in few minutes, but I thought it was enough. I said goodbye to him, hopefully to meet him again. What a wonderful weekend.

    Irfan red


  • Losing Keys

    Losing Keys



    Losing usually happens in our life. Surely we have ever lost valuable things that we needed so much. It was important and we will feel worried if it disappears. The losing could be due to forgetfulness or stolen by others. Last Sunday, when I went to Jakarta Convention Center (JCC) for preparing to sell books at the one of stand in the Indonesia International Books Fair 2016, my keys were lost. I slept in the office with 3 other friends . Two of my friends had been gone to the JCC, so only I and another one still stayed in the office. After I took a bath and wore clear clothes, I was ready to go to JCC. But suddenly my friend said to me that the keys were lost. I   immediately looked for the keys, because the doors and the gates should  have been closed before we went to JCC for safety. Moreover there was no one in the office, so we had no guts to left the office without ensuring that the doors and the gates were locked.
    We searched around  the office but we could not find anything. When I was searching I tried to remember the previous event. I rather remembered that the keys were in the door last Saturday night and being hanged in the door. It was my last memory that I still remembered .
    My friend suggested me to go to JCC. He was willing to search the keys by himself before he went to JCC too. But I still felt uncomfortable to leave the office. So I considered come back again after I ate in the Warteg that near from my office (Food Stalls Tegal). I asked to my friend, “Did you find the keys?” He just said, “Don’t worry, I will find it, so please you must go to JCC right now, Edy need you..”  Finally, I went to JCC hardly and still thought about the problem around  the way.
    I sent massage via whatsapp to Miss. Devy who also lived in the office (actually there is boarding house in the 2nd floor office). I told her about losing keys and also asked her maybe she accidently brought the keys, but actually she didn’t know. She also notified me that she went to Bandung early in the morning. She advised me to ask my friends, but I have asked them one by one, and they didn’t know about it. Suddenly my friend who still stayed in the office sent me a massage.
    “The keys are found by me…”
    “Waaah…. That’s good news. Where did you discover it?” I asked him with pleasure.
    “I found at the bookshelf”
    I was relieved but I thought again, I remembered that he often forget something. Maybe he forgot put the keys at the bookshelf when he read books. But there was one thing that I learned, Something lost someday will return if it truly belong to us.”

    (Irfan red)
  • Exhausting Weekend

    Exhausting Weekend



    I got many project last week, and the peak was at weekend. I prepared for pitching forum and sharing session in Ministry Education and Culture. This event was organized by National Book Committee  from 29th-30th September 2016. One of best author from Pustaka Obor Publishing (actually my workplace), Hanna Rambe, had a chance to present with the theme “From Page to Screen”. She wrote a historical novel titled “Aimuna dan Sobori” in original version and “Cloves for Kolosia” in English version. Her novel was chosen by the committee because it was very deep knowledge and it imagined clearly about historical of cloves in Moluccas. To write this book, she researched thirty years, asked many professors, read many books, and came to the museum for accompanied information to fix her writing.
    I admire Mrs. Hanna Rambe. She  inspired me when she told me about her experience. I was really happy when I heard the announcement about accepting her novel in this event. I prepared to register this event for 7 days, because this event required summary of the novel in English, curriculum vitae and original book’s file. I called my friend who was very good at translating, her name was Adibah. Mrs. Hanna Rambe summarized the novel for 3 days, and there will be 4 days left before deadline. It is very short time to the translation. I called my friends and I hope she was ready to finish this challenge. When I called her, she didn’t answer my calling. I was very worried, because besides of this project I have to prepare some events in Indonesia International Books Fair (IIBF) 2016 that had been held from 28th September to 2nd October. This event happens at the same time with The Pitching forum, so I must ask   my work partner to take one or two event.
    In the evening, I called Adibah again. And God blessed me, she answered my calling and was ready to finish the translation. I sent the requirement in the end of deadline. After I got the announcement, I gave it to Mrs. Hanna Rambe. She was very happy, I was touched by her. And then we prepared to show in Pitching Forum. We made slide of presentation, editing handout and searching more information about the Producer. Two great Producer from Germany will come to this event, we felt so amazing and we thanks for the committee who invited us. We really hoped   our novel will be accepted by the Producer and will  have a movie based on this book in  German.
    After The Pitching Forum finished, my project was not over. I must do other events in IIBF 2016. Among others are Pre-Launching Bosnia Poetry, Book’s Launching Kajian Perempuan Malaysia-Indonesia dalam Sastra, Korean Poetry Competition and Story Telling. So, It was very exhausting. I needed more energy to study in the evening because I had many targets. One of my targets is improving my English skills. So even though I am tired or not, I must manage my spirit to get a successful. (Irf)



  • Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Merangkai Diksi

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.