Karsa Angklung
Lagukan aku dalam
lekukan musikmu yang sederhana
Layangkan aku
di sela-sela pukulan penuh nada
Engkau
mendayung lembut menyentuh jiwa
Merayap-rayap
di keheningan
Sulit Haru
Sulit Haru
Oleh: Saendahe
Bergiring-giring hati mematuhi janji
Berontak otak tak mampu menggertak
Aku pilu mengadu sendu
Melihat mayat-mayat hidup di bumi pertiwi
Titik Putih Itu
bacalah.... nantikan kejutan di dalamnya...
Titik Putih Itu
“Kring..Kring…”
Suara sepeda pak yai begitu jelas terdengar
di telinga Neng Cisi. Sekitar beberapa detik lagi pak yai pasti akan
sampai di Ndalem. Neng Cisi bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan
kopi kesukaan pak yai. Kopi kapal kuda. Itu merek kopi ternama di desanya. Ibu
nyai sudah sekian lama sedo. Jadi neng Cisi selain sebagai anak, dia
juga harus berlaku seperti ibunya. Mau mengabdikan diri untuk Abahnya. Abah
Huda. Itu panggilan pak yai. Beliau adalah pengsuh pondok Darul Kalam di Jogja.
Dedikasi Sepi
Dedikasi Sepi
Jika derai kecil ini berdosa
Bagiamana bisa aku mendaki
Jika jutaan luka di tangan dan kaki bagai busa
Terus menerus ada, tak henti sampai mati
Akankah aku tenggelam di jiwa
yang meradang
Aku bukan asa yang bergelora
Hanya secuil tanah yang mengucil
Aku terpencil di sela-sela nafas dunia
Mungkin kau akan temukanku di balik terumbu
Atau di pori-pori angkasa yang membiru
Semesta ini penuh keramaian
Namun ada ruang hampa berbalut kesepian
Aku tak mengutuk jiwaku agar memasukinya
Bahkan hanya sekedar untuk mengintipnya
Tiba-tiba angin yang membawa api
By: Saendahe
Dunia Musuh dan Teman
Semedi, aku dibuat pusing kepala.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
Bertanya pada teman yang tidak pernah kemana-mana.
Aku maunya apa?
Datanglah rerintik gelisah, di antara teman dan musuh yang jika ku usir keduanya tak sedikitpun tersindir..
Ku biarkan mereka bikin rapat dan sedikit-sedikit ku ajak mereka agar mau minum kopi, Secangkir berdua..
Tapi, kopi yang baru saja aku aduk, malah mereka rebut hingga gelasnya remuk.
Aku amuk, mereka berkecamuk.
Aku beri usul, mereka membantah dan saling konspirasi buta..
Kini, aku sudah bosan...
Teman dan musuh sudah saling serang, tak peduli lagi. Aku rebut saja salah satu posisi mereka.
Ku ubah dunia dengan diriku, mulai sekarang. Dunia musuh dan teman adalah fana'. Ku giring mereka.
*Puisi ditulis di atas sajadah yang dilipat sebagai alas duduk, diterangi lampu belajar nan sukar. Aku masih menguatkan mata.
Jarak Tanpa Kaki
Jarak Tanpa Kaki
Lelaki tanpa kaki berjalan menapaki malam penuh
kenangan
Seret demi seret tangannya yang kuat membuatnya
terus bertahan
Andai badai menerpanya bukan lunglai yang akan
diterima
Dia tetap menjaga lembaran kertas dari bulan
purnama di hatinya
Pengorbanan kaki menjadi saksi
Pengorbanan kaki menjadi saksi
Demi cita ia relakan jarak
Meski jauh menjadi spasi
Bahkan waktu terus menolak
Detik detik membuatnya lupa
Tak mampu ia membendung cinta
Hingga lautan bergejolak mencipta tsunami di
dada dan kepala
Propaganda dahulu menyusut menjadi titik
Namun titik-titik itu terus menghujan mencipta
grafik
Air tak
mampu menetralkan rasa
Asin itu masih terasa di lidah yang terbuka
Memang benar kini aku tak menginginkanmu
Tapi hidupku terus berintegrasi denganmu
Jarak yang tanpa kaki tak menjadi luka untuk
dilalui
Keikhlasanmu mencipta haru
Buatku merenung karena ingin menghilangkanmu
Maafkan aku kasih aku terbang terlalu jauh
Hatimu pedih merintih terpenuhi keluh peluh
yang menderuh
Aku tak sanggup mengatakannya apalagi
mengulanginya
Entah apa takdir untuk kita
Jarak tanpa kaki dipenuhi doa-doa cinta
By: Saendahe
By: Saendahe
Kadang
"Kadang kita berharap pada seseorang, agar harapan itu menjadi ijabah, bahkan kadang merasuk ke dalam mimpi..."
"Kadangpula kita ingin agar orang lain tak egois terhadap perasaan kita, mungkin ada benarnya. Tapi kita tidak pernah tahu kedalaman hati dan kegalauan hati orang lain, karena kita tak bisa melihatnya.."
"Kadangpula kita ingin orang lain mengerti tanpa kita memberitahukannya, sangat ingin seperti itu, tapi sayangnya kita hidup dalam dunia 3 dimensi, dimana hanya yang terlihat yang dapat dimengerti.."
"Kadang kita ingin menyampaikan rasa marah, kesal, benci bahkan suka tapi lagi-lagi kita hidup di dunia 3 dimensi, yang mana yang terlihat yang dapat dimengerti, apa yang kita katakan marah sebenarnya mengandung sayang, apa yang kita katakan suka malah mungkin ada benci..."
"Kadang kita lupa hanya Tuhan yang maha tahu, seberapa ingin kita tak semudah minum kopi di pagi hari, tak semua mudah dimengerti.."
"Baru ketika seseorang yang paling menyayangi hidup kita pergi, kadang-kadang akan menjadi sering bahkan jarang.."
By: Saendahe"Kadang kita ingin menyampaikan rasa marah, kesal, benci bahkan suka tapi lagi-lagi kita hidup di dunia 3 dimensi, yang mana yang terlihat yang dapat dimengerti, apa yang kita katakan marah sebenarnya mengandung sayang, apa yang kita katakan suka malah mungkin ada benci..."
"Kadang kita lupa hanya Tuhan yang maha tahu, seberapa ingin kita tak semudah minum kopi di pagi hari, tak semua mudah dimengerti.."
"Baru ketika seseorang yang paling menyayangi hidup kita pergi, kadang-kadang akan menjadi sering bahkan jarang.."
Popular Posts
Diberdayakan oleh Blogger.

