Kicauan
burung menyapa pagi. Desir angin dingin ikut menyegarkannya. Embun-embun
menetes sebening dzikir yang selalu terdengar di pojok desa Keninggili.
Suaranya begitu merdu menyucikan pagi atas sisa sisa malam. Ada sebuah surau
kecil di pinggir sungai yang senantiasa mengumandangkan nama-nama Allah. Bukan
suraunya yang bersuara tetapi sekelompok santri Pondok Miftahul Jannah yang
mengamalkannya. Ya, Santri itu didikan pak Kiyai Sholihin. Dzikir di surau
depan pondok adalah sebuah kebiasaan santri yang begitu indah.
Warna
awan yang semakin putih dan intipan matahari yang meninggi membuat dzikir
berhenti tepat pada waktunya. Santri yang berpakaian putih-putih itu keluar
dari surau bergerumun dengan tertib. Tiba-tiba terdengar suara mengundang dari
arah selatan. Suara yang membuat gerakan santri terhenti.
“Jar...”
“Dalem
pak Kiyai..”
Ternyata
suara dari Kiyai Sholihin yang sedang duduk di kursi depan rumah.
Ginanjar
seorang santri yang beruntung karena pagi-pagi sudah dipanggil pak Kiyai.
“Sini
jar...”
“Nggeh
pak Kiyai..”
“Kamu
sudah hafal alfiyah jar?”
Pertanyaan
yang mencengangkan karena Ginanjar termasuk santri baru. Dia baru mondok dua
bulan di pondok pesantren itu.
“Dereng
pak Kiyai..” Ginanjar menjawab sambil merunduk.
“Lho
katanya teman-temanmu kamu hafalnya paling banyak..”
“Nggeh..
Tapi baru sembilan ratus nadzoman.. Belum semuanya pak Kiyai..”
“Oh..
Itu sudah cukup banyak, diselesaikan ya.. Nanti bulan depan kamu ikut Batsul
Masail di Kediri...”
“Nggeh
Pak Kiyai..”
Ginanjar
memang bukan santri biasa. Dia santri yang paling pandai di pondok pesantren
itu. Baru dua bulan dia sudah hampir hafal alfiyah. Terkadang membuat
teman-temannya iri. Karena dia begitu dekat dengan pak kiyai.
Bulan
berikutnya dia sudah hafal alfiyah dan menjadi perwakilan pondok mengikuti
batsul masail di kediri. Dia berangkat bersama dua temannya. Di sana dia
mendapatkan banyak pujian karena kecerdasannya menjawab masalah. Bahkan ada
salah satu kiyai yang ingin menjadikannya menantu. Tapi dia tidak mau karena
usianya yang terbilang masih muda. Baru tujuh belas tahun tak pantas jika
menikah.
Bulan
demi bulan dilewati Ginanjar dengan banyak belajar. Dia semakin pandai
menguasai banyak kitab. Bahkan kitab di perpustakaan sudah habis dia baca.
“Jar...
Kalau kamu mau baca kitab silahkan masuk ke rumah.. Di samping ruang tamu ada
lemari yang berisi banyak kitab-kitab..” Begitu pesan pak kiyai Sholihin.
“Nggeh
pak Kiyai..”
Mulai
saat itu dia semakin sering masuk ke rumah pak Kiyai. Pak kiyai semakin jelas
memperhatikannya. Ada sebuah harapan di hati kecil pak kiyai. Harapan agung
yang ia pendam untuk anak itu.
Semakin
sering Ginanjar ke rumah pak Kiyai semakin besar keirian teman-temannya. Tapi
hanya beberapa saja yang iri, yang lain juga ada yang bangga dengan kehadiran
anak itu. Termasuk putri pak Kiyai.
Diam-diam
neng Shofia salah satu putri kiyai selalu mencuri pandang. Saat ia berpapasan
dengan Ginanjar. Juga saat ia menghantarkan kopi di ruang tamu untuk pak Kiyai.
Ginanjar
memang tidak hanya pandai. Wajahnya yang tampan menjadi pusat perhatian para
gadis. Usia Ginanjar semakin bertambah menambah pula kealiman dan
kegantengannya. Mungkin jika seluruh santri putri ditawari untuk menjadi
kekasihnya tidak akan ada yang mau menolak. Tapi bagi Ginanjar perempuan adalah
prioritas terakhir. Ia tak begitu memperhatikan. Baginya kitab adalah kekasih
yang paling setia.
-
Di
sebuah kerajaan Iblis yang begitu mengerikan, terdengar suara geraman yang
menakutkan. Sesosok setan dengan wajah putus asa melaporkan kepada raja iblis
atas kegagalannya bertugas.
“Kenapa
kamu sampai gagal mempengaruhi anak itu?”
“Anu..
Raja.. Dia begitu khusuk mencari ilmu. Dia sulit dipengaruhi..”
“Lho..
Bukankah di jaman ini pemuda mudah sekali terpengaruh wanita?!”
“Anu..
Raja.. Dia kayaknya tidak doyan wanita..”
“Maksudnya
dia kelainan?”
“Bukan
Raja.. Dia tak mau melirik lebih lama wanita.. Dia fokus pada kitab yang
dibaca..”
“Hmmm..
Begitu..”
Nampak
Raja Iblis berpikir agak lama. Ia mencari-cari ide untuk misi selanjutnya.
Karena belum menemukan ide maka ia mendatangkan setan dari Yaman, Mesir, dan
Kairo yang sudah terbiasa menggoda orang-orang alim tingkatan tinggi. Dalam
sebuah pertemuan tertutup muncullah sebuah ide cemerlang.
“Begitu
tan.. setan...”
“Oh
begitu Raja... Saya siap menjalankan misi...”
Suatu
sore yang tentram Ginanjar tengah menyapu halaman rumah pak Kiyai. Terdengar
suara yang mengejutkannya.
“Jar...”
Ia
menoleh.
“Oh
kamu to pri..”
Jupri
teman Ginanjar tersenyum sumringah.
“Ada
apa pri senyam senyum gitu?”
“Hehe..
Ini jar.. Aku punya info baik buat kamu..”
“Info
apa?”
“Kamu
kan katanya lagi butuh uang tambahan to? Tadi aku diberitahu temenku.. Katanya
di TPQ Al Fatah Keninggili lagi butuh pengajar..”
“Wah
beneran?”
“Iya..
Ya gajinya ndak seberapa.. Tapi kanbisa kamu tabung...”
“Hmm...
Tak coba ya pri...”
“Siip..”
Jupri
meninggalkan Ginanjar. Tapi ada gelagat aneh di wajah Jupri yang tak terlihat
oleh Ginanjar.
Ginanjar
memang sebelumnya tak pernah keluar dari lingkungan pesantren semenjak mondok
di Pesantren itu. Baru kali ini dia akan menginjakkan kakinya pada dunia baru.
Memang jaraknya tak jauh dari pesantren, tapi mengajar di TPQ akan menjadi
pengalaman baru bagi Ginanjar.
Pagi-pagi
yang mendung Ginanjar menemui Pak Kiyai. Ia ingin meminta ijin.
“Begitu
Jar? Kamu sudah mantap?” Tanya pak Kiyai setelah mendengarkan penjelasan
Ginanjar.
“Insyaallah
mantap pak yai..”
“Ya
sudah.. Semoga ilmumu bermanfaat..”
“Amiin..
Maturnuwun pak yai..”
Ginanjar
mencium tangan pak Kiyai kemudian beranjak meninggalkannya dengan hati lega.
-
Mengajar
membuat Ginanjar menemukan jati diri yang terpendam. Namun ada perasaan kecil
di hatinya bahwa dia lebih baik dari yang dia ajar. Perasaan ini membuat
Ginanjar lebih banyak mengajar daripada belajar. Sudah jarang sekali dia
menyentuh kitab-kitab yang selalu menemaninya tiap hari.
Ginanjar
mulai berkenalan dengan banyak pengajar di TPQ itu. Baik laki-laki maupun
perempuan. Ada seorang perempuan yang parasnya membuat Ginanjar semangat untuk
mengajar. Diam-diam Ginanjar selalu memperhatikan. Ia mulai tertarik pada
perempuan.
“Assalamualaikum...”
Begitu sapa gadis itu.
Ginanjar
terpaku melihatnya. Tak pernah sebelumnya Ginanjar memperhatikan perempuan
begitu lama.
“Ternyata
perempuan itu indah..” Ginanjar seperti mengigau.
“Mas..
Bilang apa?”
“Oh..
Ndak mbak..” Ia merunduk malu. Mukanya memerah.
“Hehe
ndak usah malu-malu mas.. Kok salamnya ndak dijawab?” Begitu tanya gadis
itu.
Mereka
berdua sedang di ruang kantor tanpa orang lain.
“Oh
iya mbak.. Waalaikumsalam.. Namanya siapa mbak?” Ginanjar mulai berani bertanya
sambil melihat indahnya senyum dari wajah cantik gadis itu.
“Dwi
Anjani... Mas?”
“Oh
saya Ginanjar mbak..”
Perkenalan
itu menjadi hal yang tak terlupakan bagi Ginanjar. Ia selalu mengingat-ingat
gadis itu. Tiap malam Ginanjar membayangkan gadis itu. Ingin sekali ia
memilikinya. Cinta sudah menjadikan semuanya abu-abu.
-
Saat
hari menjelang senja, ia ingin mengatakan perasaan yang menggebu-gebu di
hatinya. Ia mengajak Anjani untuk pulang bersama. Di jalan pinggir sawah ia
mengungkapkan segala rasa yang bergemuruh di hatinya.
“Aku
mencintaimu Anjani..”
Anjani
dengan senyuman menjawabnya.
Tiba-tiba
Ginanjar merasakan sesuatu yang menjalar hangat. Anjani memeluk Ginanjar. Baru
kali ini ia merasakan pelukan perempuan. Perasaan aneh muncul di hatinya. Namun
Ginanjar tak kuasa.
“Aku
juga mencintaimu Ginanjar..”
Mulai
saat itu Ginanjar benar-benar berubah. Bahkan Ginanjar tak hanya mengajak
Anjani jalan bersama sepulang mengajar tapi juga pada waktu yang lain. Hal ini membuat
teman-teman Ginanjar di Pondok curiga.
Pengurus
pondok menyuruh dua orang agar mengawasi Ginanjar. Karena banyak peraturan
pesantren yang dilanggar Ginanjar. Padahal Ginanjar seperti anak kesayangan pak
kiyai Sholihin. Namun dia seolah tak peduli. Kini Ginanjar mulai mengecewakan
banyak orang. Termasuk pak kiyai dan neng Shofia.
Dua
pengurus itu, yakni Eko dan Hadi mengikuti diam-diam saat Ginanjar pergi keluar
pesantren. Padahal saat itu adalah hari jum’at. Hari dimana TPQ libur.
Kecurigaan Eko dan Hadi semakin menjadi-jadi.
Ginanjar
terus berjalan menyusuri kampung-kampung hingga sampai di persawahan. Ia
berhenti pada sebuah batu di tempat yang sepi. Tak lama setelah itu datang
seorang gadis yang cantik. Eko dan Hadi yakin bahwa gadis itu adalah kekasih
Ginanjar.
Eko
dan Hadi kemudian banyak beristighfar karena melihat perbuatan Ginanjar dan
gadis itu yang tak mencerminkan santri. Begitu banyak hal-hal berlebihan yang
mereka lakukan. Seolah kata alim telah sirna di diri Ginanjar.
Eko
dan Hadi langsung kembali ke pondok dan melaporkan apa yang dia lihat pada pak
Kiyai. Begitu terkejutnya pak Kiyai mendengar itu. Sesampainya Ginanjar di
pondok ia disuruh menghadap pak Kiyai.
“Kamu
pilih gadis itu atau pesantren ini?” Begitu tanya pak Kiyai dengan tegas.
Ginanjar
hanya diam saja.
“Aku
sungguh kecewa denganmu, kenapa kamu begitu mudahnya berubah.. Ingatlah..
Istighfar Ginanjar..”
“Sekali
lagi tak tanya.. Kamu pilih gadis itu apa pesantren ini? Jika kamu pilih gadis
itu maka keluarlah dari pesantren ini... Tapi jika kamu memilih pesantren ini
maka kamu aku persilahkan memilih salah satu putriku..”
Ginanjar
hanya diam saja.
“Jawab!”
Suara tegas pak kiyai.
“Aku
pilih gadis itu..” Ginanjar mendongakkan kepala. Baru kali ini dia berani
berbuat seperti itu. Entah setan seperti apa yang telah menguasainya.
“Ya
sudah.. Keluarlah.. Ora barokah ilmumu!!” Bentak pak Kiyai.
Sabda
pak Kiyai seolah dijawab alam. Suara guntur bergemuruh di atas rumah pak Kiyai.
Ginanjar keluar pesantren karena kesalahan yang ia perbuat.
Kini
Ginanjar menjalani hidup sebagai sopir angkutan. Seorang teman santrinya yang
dulu pernah sekamar dengannya bertemu saat naik angkutan. Ia menanyakan hal-hal
yang dulu mudah sekali Ginanjar jawab.
“Maaf
Jupri... Aku sudah tak bisa membaca kitab kuning.. Semua hafalan alfiyahku
sudah hilang...”
“Oh
begitu jar… Ya sudah ndak pa-pa… Sekarang jalani saja hidupmu apa adanya..”
Turun
dari angkutan itu Jupri tertawa bangga. Kemudian menjelma api dan menghilang.



0 komentar:
Posting Komentar