ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

  • Santri Alim

    Santri Alim


    Sumber foto: http://taadeers.blogspot.co.id/

    Kicauan burung menyapa pagi. Desir angin dingin ikut menyegarkannya. Embun-embun menetes sebening dzikir yang selalu terdengar di pojok desa Keninggili. Suaranya begitu merdu menyucikan pagi atas sisa sisa malam. Ada sebuah surau kecil di pinggir sungai yang senantiasa mengumandangkan nama-nama Allah. Bukan suraunya yang bersuara tetapi sekelompok santri Pondok Miftahul Jannah yang mengamalkannya. Ya, Santri itu didikan pak Kiyai Sholihin. Dzikir di surau depan pondok adalah sebuah kebiasaan santri yang begitu indah.
    Warna awan yang semakin putih dan intipan matahari yang meninggi membuat dzikir berhenti tepat pada waktunya. Santri yang berpakaian putih-putih itu keluar dari surau bergerumun dengan tertib. Tiba-tiba terdengar suara mengundang dari arah selatan. Suara yang membuat gerakan santri terhenti.
    “Jar...”
    “Dalem pak Kiyai..”
    Ternyata suara dari Kiyai Sholihin yang sedang duduk di kursi depan rumah.
    Ginanjar seorang santri yang beruntung karena pagi-pagi sudah dipanggil pak Kiyai.
    “Sini jar...”
    “Nggeh pak Kiyai..”
    “Kamu sudah hafal alfiyah jar?”
    Pertanyaan yang mencengangkan karena Ginanjar termasuk santri baru. Dia baru mondok dua bulan di pondok pesantren itu.
    “Dereng pak Kiyai..” Ginanjar menjawab sambil merunduk.
    “Lho katanya teman-temanmu kamu hafalnya paling banyak..”
    “Nggeh.. Tapi baru sembilan ratus nadzoman.. Belum semuanya pak Kiyai..”
    “Oh.. Itu sudah cukup banyak, diselesaikan ya.. Nanti bulan depan kamu ikut Batsul Masail di Kediri...”
    “Nggeh Pak Kiyai..”
    Ginanjar memang bukan santri biasa. Dia santri yang paling pandai di pondok pesantren itu. Baru dua bulan dia sudah hampir hafal alfiyah. Terkadang membuat teman-temannya iri. Karena dia begitu dekat dengan pak kiyai.
    Bulan berikutnya dia sudah hafal alfiyah dan menjadi perwakilan pondok mengikuti batsul masail di kediri. Dia berangkat bersama dua temannya. Di sana dia mendapatkan banyak pujian karena kecerdasannya menjawab masalah. Bahkan ada salah satu kiyai yang ingin menjadikannya menantu. Tapi dia tidak mau karena usianya yang terbilang masih muda. Baru tujuh belas tahun tak pantas jika menikah.
    Bulan demi bulan dilewati Ginanjar dengan banyak belajar. Dia semakin pandai menguasai banyak kitab. Bahkan kitab di perpustakaan sudah habis dia baca.
    “Jar... Kalau kamu mau baca kitab silahkan masuk ke rumah.. Di samping ruang tamu ada lemari yang berisi banyak kitab-kitab..” Begitu pesan pak kiyai Sholihin.
    “Nggeh pak Kiyai..”
    Mulai saat itu dia semakin sering masuk ke rumah pak Kiyai. Pak kiyai semakin jelas memperhatikannya. Ada sebuah harapan di hati kecil pak kiyai. Harapan agung yang ia pendam untuk anak itu.
    Semakin sering Ginanjar ke rumah pak Kiyai semakin besar keirian teman-temannya. Tapi hanya beberapa saja yang iri, yang lain juga ada yang bangga dengan kehadiran anak itu. Termasuk putri pak Kiyai.
    Diam-diam neng Shofia salah satu putri kiyai selalu mencuri pandang. Saat ia berpapasan dengan Ginanjar. Juga saat ia menghantarkan kopi di ruang tamu untuk pak Kiyai.
    Ginanjar memang tidak hanya pandai. Wajahnya yang tampan menjadi pusat perhatian para gadis. Usia Ginanjar semakin bertambah menambah pula kealiman dan kegantengannya. Mungkin jika seluruh santri putri ditawari  untuk menjadi kekasihnya tidak akan ada yang mau menolak. Tapi bagi Ginanjar perempuan adalah prioritas terakhir. Ia tak begitu memperhatikan. Baginya kitab adalah kekasih yang paling setia.
    -
    Di sebuah kerajaan Iblis yang begitu mengerikan, terdengar suara geraman yang menakutkan. Sesosok setan dengan wajah putus asa melaporkan kepada raja iblis atas kegagalannya bertugas.
    “Kenapa kamu sampai gagal mempengaruhi anak itu?”
    “Anu.. Raja.. Dia begitu khusuk mencari ilmu. Dia sulit dipengaruhi..”
    “Lho.. Bukankah di jaman ini pemuda mudah sekali terpengaruh wanita?!”
    “Anu.. Raja.. Dia kayaknya tidak doyan wanita..”
    “Maksudnya dia kelainan?”
    “Bukan Raja.. Dia tak mau melirik lebih lama wanita.. Dia fokus pada kitab yang dibaca..”
    “Hmmm.. Begitu..”
    Nampak Raja Iblis berpikir agak lama. Ia mencari-cari ide untuk misi selanjutnya. Karena belum menemukan ide maka ia mendatangkan setan dari Yaman, Mesir, dan Kairo yang sudah terbiasa menggoda orang-orang alim tingkatan tinggi. Dalam sebuah pertemuan tertutup muncullah sebuah ide cemerlang.
    “Begitu tan.. setan...”
    “Oh begitu Raja... Saya siap menjalankan misi...”

    Suatu sore yang tentram Ginanjar tengah menyapu halaman rumah pak Kiyai. Terdengar suara yang mengejutkannya.
    “Jar...”
    Ia menoleh.
    “Oh kamu to pri..”
    Jupri teman Ginanjar tersenyum sumringah.
    “Ada apa pri senyam senyum gitu?”
    “Hehe.. Ini jar.. Aku punya info baik buat kamu..”
    “Info apa?”
    “Kamu kan katanya lagi butuh uang tambahan to? Tadi aku diberitahu temenku.. Katanya di TPQ Al Fatah Keninggili lagi butuh pengajar..”
    “Wah beneran?”
    “Iya.. Ya gajinya ndak seberapa.. Tapi kanbisa kamu tabung...”
    “Hmm... Tak coba ya pri...”
    “Siip..”
    Jupri meninggalkan Ginanjar. Tapi ada gelagat aneh di wajah Jupri yang tak terlihat oleh Ginanjar.
    Ginanjar memang sebelumnya tak pernah keluar dari lingkungan pesantren semenjak mondok di Pesantren itu. Baru kali ini dia akan menginjakkan kakinya pada dunia baru. Memang jaraknya tak jauh dari pesantren, tapi mengajar di TPQ akan menjadi pengalaman baru bagi Ginanjar.
    Pagi-pagi yang mendung Ginanjar menemui Pak Kiyai. Ia ingin meminta ijin.
    “Begitu Jar? Kamu sudah mantap?” Tanya pak Kiyai setelah mendengarkan penjelasan Ginanjar.
    “Insyaallah mantap pak yai..”
    “Ya sudah.. Semoga ilmumu bermanfaat..”
    “Amiin.. Maturnuwun pak yai..”
    Ginanjar mencium tangan pak Kiyai kemudian beranjak meninggalkannya dengan hati lega.
    -
    Mengajar membuat Ginanjar menemukan jati diri yang terpendam. Namun ada perasaan kecil di hatinya bahwa dia lebih baik dari yang dia ajar. Perasaan ini membuat Ginanjar lebih banyak mengajar daripada belajar. Sudah jarang sekali dia menyentuh kitab-kitab yang selalu menemaninya tiap hari.
    Ginanjar mulai berkenalan dengan banyak pengajar di TPQ itu. Baik laki-laki maupun perempuan. Ada seorang perempuan yang parasnya membuat Ginanjar semangat untuk mengajar. Diam-diam Ginanjar selalu memperhatikan. Ia mulai tertarik pada perempuan.
    “Assalamualaikum...” Begitu sapa gadis itu.
    Ginanjar terpaku melihatnya. Tak pernah sebelumnya Ginanjar memperhatikan perempuan begitu lama.
    “Ternyata perempuan itu indah..” Ginanjar seperti mengigau.
    “Mas.. Bilang apa?”
    “Oh.. Ndak mbak..” Ia merunduk malu. Mukanya memerah.
    “Hehe ndak usah malu-malu mas.. Kok salamnya ndak dijawab?”  Begitu tanya gadis itu.
    Mereka berdua sedang di ruang kantor tanpa orang lain.
    “Oh iya mbak.. Waalaikumsalam.. Namanya siapa mbak?” Ginanjar mulai berani bertanya sambil melihat indahnya senyum dari wajah cantik gadis itu.
    “Dwi Anjani... Mas?”
    “Oh saya Ginanjar mbak..”
    Perkenalan itu menjadi hal yang tak terlupakan bagi Ginanjar. Ia selalu mengingat-ingat gadis itu. Tiap malam Ginanjar membayangkan gadis itu. Ingin sekali ia memilikinya. Cinta sudah menjadikan semuanya abu-abu.
    -
    Saat hari menjelang senja, ia ingin mengatakan perasaan yang menggebu-gebu di hatinya. Ia mengajak Anjani untuk pulang bersama. Di jalan pinggir sawah ia mengungkapkan segala rasa yang bergemuruh di hatinya.
    “Aku mencintaimu Anjani..”
    Anjani dengan senyuman menjawabnya.
    Tiba-tiba Ginanjar merasakan sesuatu yang menjalar hangat. Anjani memeluk Ginanjar. Baru kali ini ia merasakan pelukan perempuan. Perasaan aneh muncul di hatinya. Namun Ginanjar tak kuasa.
    “Aku juga mencintaimu Ginanjar..”
    Mulai saat itu Ginanjar benar-benar berubah. Bahkan Ginanjar tak hanya mengajak Anjani jalan bersama sepulang mengajar tapi juga pada waktu yang lain. Hal ini membuat teman-teman Ginanjar di Pondok curiga.

    Pengurus pondok menyuruh dua orang agar mengawasi Ginanjar. Karena banyak peraturan pesantren yang dilanggar Ginanjar. Padahal Ginanjar seperti anak kesayangan pak kiyai Sholihin. Namun dia seolah tak peduli. Kini Ginanjar mulai mengecewakan banyak orang. Termasuk pak kiyai dan neng Shofia.
    Dua pengurus itu, yakni Eko dan Hadi mengikuti diam-diam saat Ginanjar pergi keluar pesantren. Padahal saat itu adalah hari jum’at. Hari dimana TPQ libur. Kecurigaan Eko dan Hadi semakin menjadi-jadi.
    Ginanjar terus berjalan menyusuri kampung-kampung hingga sampai di persawahan. Ia berhenti pada sebuah batu di tempat yang sepi. Tak lama setelah itu datang seorang gadis yang cantik. Eko dan Hadi yakin bahwa gadis itu adalah kekasih Ginanjar.
    Eko dan Hadi kemudian banyak beristighfar karena melihat perbuatan Ginanjar dan gadis itu yang tak mencerminkan santri. Begitu banyak hal-hal berlebihan yang mereka lakukan. Seolah kata alim telah sirna di diri Ginanjar.
    Eko dan Hadi langsung kembali ke pondok dan melaporkan apa yang dia lihat pada pak Kiyai. Begitu terkejutnya pak Kiyai mendengar itu. Sesampainya Ginanjar di pondok ia disuruh menghadap pak Kiyai.
    “Kamu pilih gadis itu atau pesantren ini?” Begitu tanya pak Kiyai dengan tegas.
    Ginanjar hanya diam saja.
    “Aku sungguh kecewa denganmu, kenapa kamu begitu mudahnya berubah.. Ingatlah.. Istighfar Ginanjar..”
    “Sekali lagi tak tanya.. Kamu pilih gadis itu apa pesantren ini? Jika kamu pilih gadis itu maka keluarlah dari pesantren ini... Tapi jika kamu memilih pesantren ini maka kamu aku persilahkan memilih salah satu putriku..”
    Ginanjar hanya diam saja.
    “Jawab!” Suara tegas pak kiyai.
    “Aku pilih gadis itu..” Ginanjar mendongakkan kepala. Baru kali ini dia berani berbuat seperti itu. Entah setan seperti apa yang telah menguasainya.
    “Ya sudah.. Keluarlah.. Ora barokah ilmumu!!” Bentak pak Kiyai.
    Sabda pak Kiyai seolah dijawab alam. Suara guntur bergemuruh di atas rumah pak Kiyai. Ginanjar keluar pesantren karena kesalahan yang ia perbuat.
    Kini Ginanjar menjalani hidup sebagai sopir angkutan. Seorang teman santrinya yang dulu pernah sekamar dengannya bertemu saat naik angkutan. Ia menanyakan hal-hal yang dulu mudah sekali Ginanjar jawab.
    “Maaf Jupri... Aku sudah tak bisa membaca kitab kuning.. Semua hafalan alfiyahku sudah hilang...”
    “Oh begitu jar… Ya sudah ndak pa-pa… Sekarang jalani saja hidupmu apa adanya..”

    Turun dari angkutan itu Jupri tertawa bangga. Kemudian menjelma api dan menghilang.
  • Popular Posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Daftar Blog Saya

    Pengikut

    WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Merangkai Diksi

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.